Minggu, 09 Juni 2013

I'm proud of you, mom...

Menjadi seorang ibu (maksudnya punya anak kandung), ada yang mengatakan di situlah letak 'kesempurnaan' seorang perempuan. Jadi pantaslah kalau sudah menikah bertahun-tahun, tapi belum punya anak juga, seorang wanita bisa menjadi cemas. Mungkin karena merasa tidak sempurna, atau punya alasan eksternal lain, misalnya takut sang suami berpindah ke lain wanita (mungkin...), atau dari pihak keluarga selalu mendesak-desak dan curiga kalau dirinya tidak mampu memiliki anak.

Beberapa waktu ini, secara tak sengaja aku mengamati dengan lebih empati bagaimana kehidupan seorang ibu yang memiliki anak.

Status FB atau BB seorang mommy:
Yang baru melahirkan menulis: "bosen di rumah melulu...", "kurang tidur nih, si baby tadi malam ngajakin ronda...".
Yang punya anak balita: "si dede panas...malam ini bunda akan begadang jagain dede...".
Yang suaminya kerja di luar kota: "semoga Tuhan selalu melindungi suamiku..."
Yang anaknya mau ujian: "Semoga anakku lulus..."
Dst...dst...dst.. ungkapan hati seorang ibu tentang anak-anaknya dan rumah tangganya...

Dari status-status para mommy itu, aku terpikir bahwa menjadi seorang ibu ternyata sangat tidak mudah ya... Itu tadi baru status para mommy yang punya anak-anak secara fisik dan mentalnya normal. Bagaimana dengan para mommy lain yang memiliki anak dengan kondisi kekurangan tertentu baik secara fisik atau mental? Tentu akan semakin berat lagi.

Aku teringat seorang ibu yang rela bercerai dengan suaminya hanya karena sang suami tidak mau menerima kondisi anaknya yang memiliki kekurangan secara mental. Betul lah kata pepatah: "kasih ibu sepanjang hayat, kasih anak sepanjang badan." Banyak ibu yang mengorbankan banyak hal dalam dirinya demi anak dan keluarga. Seperti tadi, sang mommy merelakan jam tidurnya hilang demi menjaga anaknya yang sakit; merelakan dirinya mengalami kebosanan demi selalu berada di samping buah hatinya. Ada banyak lagi yang mengorbankan cita-cita, karir, kesenangan-kesenangannya demi anak dan keluarganya.

Really proud to women that give many things in her life for her family.

Tidak semua wanita mengalami dan merasakan pengalaman demikian. Jadi Tuhan sebenarnya memberikan kemampuan khusus untuk itu. Anak adalah "hadiah" dari Tuhan; karena Ia memberikannya kepada siapapun perempuan yang ingin diberiNya.



Selasa, 28 Mei 2013

Me

Ada yang bilang aku begitu beruntung, sudah sekolah hingga S2 dan bekerja sebagai Pegawai Negeri, masih single dengan pekerjaan dan penghasilan yang cukup baik. Aku hanya bisa mengatakan: Puji Tuhan atas semua itu, aku menyadari semua yang aku dapatkan dan jalani sekarang adalah atas karunia Tuhan.
Ada juga yang prihatin dengan hidupku. Hidup sudah mapan, wajah lumayan, namun belum berkeluarga. Ada yang menilaiku karena terlalu memilih. It's okey...

Aku mau menguraikan satu per-satu tentang hidupku:

Aku memang belum berkeluarga, aku tidak mengalami pusingnya orang yang berkeluarga, aku hanya bisa berempati dengan teman-teman yang curhat tentang rumah tangganya. Mulai dari hubungan dengan mertua yang kurang harmonis, sampai bertengkar dengan suami gara-gara masalah sepele.

Aku tidak merasakan pusingnya seorang ibu mengatur keuangan dalam rumah tangganya, yang aku alami adalah pusing dengan pos-pos tetapku per-bulan, dan berusaha mencukupkan diri dengan yang ada.

Aku tidak mengalami langsung pusingnya mengurus suami dan anak-anak. Yang aku alami hanyalah ribetnya menghadapi adik laki-lakiku yang kadang-kadang bikin senewen. Kata teman-temanku, kurang lebih begitulah mengurus suami yang kadang banyak maunya.

Anak-anak aku tidak punya, tapi yang kurasakan adalah betapa repotnya saat mengemong 2 orang keponakanku, serta ikut heboh saat si sulung bermasalah di sekolahnya. Deg-deg-an juga melandaku saat membimbing 2 orang perempuan adik KTB ku yang beranjak remaja dengan segala tantangan hidup yang ada yang makin tidak mudah.

Banyak hal yang orang alami & rasakan tapi aku tidak mengalami & merasakan. Sebaliknya, ada banyak yang aku alami & rasakan, tapi orang lain tidak mengalami dan merasakan.

Apakah Tuhan tidak adil???

Coba aku cek dulu...
Pada suatu ketika, aku berlibur ke Belitung & sempat membuat foto underwater di sana. Ternyata teman-temanku yang sudah menikah berkomentar, "aduh senangnya yaaa..." hmm...aku lalu berpikir, oh ternyata dia  tertarik dan mungkin menginginkan ada dalam posisiku.
Lain lagi dengan diriku yang mobile bebas pergi kemana-mana, ada yang komentar (teman yang sudah menikah juga): "pergi-pergi terus, enak yaaa..." waooo...ternyata kehidupan single-ku menjadi sorotan orang-orang yang sudah menikah yaaa... Terasa sangat tidak sinkron atau relevan dengan ungkapan "cepet-cepet aja nyusul married yaaa...." karena ternyata ada bagian-bagian dalam hidupku yang sepertinya sangat mereka (teman-teman yang sudah menikah) inginkan.
Dalam hal ini aku hanya menyimpulkan: ada bagian pada orang menikah yang sangat diinginkan orang lajang, sebaliknya ada bagian pada orang lajang yang sangat dirindukan orang menikah.

Aku bukannya tidak ingin menikah, kalau melihat ada keluarga yang selalu bersama-sama, rasanya ingin seperti mereka. Kalau ada masalah yang cukup penting, ingin rasanya punya teman berbagi segalanya.
Tapi ketika mendengar cerita teman-teman yang pernikahannya "gagal", rasanya mata ini semakin "belo" untuk menemukan laki-laki yang bersedia bersama-sama, dalam susah-senang, dalam keadaan kaya-miskin, dalam keadaan sehat-sakit, sampai maut memisahkan; sebagaimana janji nikah Kristen yang sering kuikuti.

Orang bilang sudah telat nikah-lah, it's okay...aku hanya mau bilang: sejak aku kenal Yesus, hidupku padaNya, aku menyerahkan kepercayaanku dalam hal apapun padaNya. Aku tau bukan masalah besar bagi Dia untuk mempertemukanku dengan seseorang yang mau menerimaku apa adanya. Hanya saja, entahlah apa yang menjadi rencanaNya, hingga saat ini aku belum bertemu dengan sosok itu.

Aku malah berpikiran hal lain, apakah Tuhan memang menghendakiku untuk tidak menikah demi tujuanNya?  Sebagaimana Ia memilih Maria sebagai Ibu Yesus. Itulah kedaulatanNya, Ia memilih yang Ia mau...

Kalau kurenungkan hidupku saat ini, aku hanya mau bilang...what a lucky person I am...banyak hal yang membuatku merasa happy tiap-tiap hari...orang-orang di sekelilingku yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa karena ulah-ulah lucu mereka. Kehidupan single-ku memungkinkanku mencapai dan melakukan banyak hal dalam hidupku. Bahkan saat ini aku tidak ragu-ragu lagi bilang: aku ingin mencapai mimpiku menjadi penulis & trainer. "Semoga Tuhan memeluk mimpiku ini..." AMIN.

Minggu, 26 Mei 2013

Mengetahui kehendak Tuhan


Minggu ini di KTB (kelompok Tumbuh Bersama) dengan 2 orang adik, kami membahas tentang Mengetahui kehendak Tuhan. Sangat menarik jadinya, karena ternyata contoh-contoh yang ada di buku bahan sebagian besar adalah apa yang dialami mereka sebagai remaja. Mulai dari mengetahui kehendak Tuhan tentang masa depan (studi), pacaran, sampai masalah yang kelihatannya kecil (sepele) seperti membeli BB, baju, dll. Salah satu adik sampai ketawa cekikikan waktu membaca bahan itu, dia bilang itulah yang dia alami, terutama saat menandai apakah itu kehendak Tuhan atau bukan. Pengalaman dia dulu katanya kalau menandai sesuatu, misalnya mau kemana-mana pasti ngomong: kalau gak hujan berarti kehendak Tuhan, sebaliknya kalau hujan berarti bukan kehendak Tuhan. Tapi si adik itu buru-buru meralat, "itu dulu kak karena belum tau bagaiman cara mengetahui kehendak Tuhan". Dan si kakaknya ini senyum-senyum aja karena ingat masa lalu yang gak jauh beda :D

Beberapa hari kemudian, aku membaca salah satu buku yang membahas tentang Bagaimana Mengerti Kehendak Tuhan yang di tulis oleh seorang hamba Tuhan. Aku sangat tergelitik dengan bagian contoh sangat real yang diberikan. Salah satu poin yang aku tandai adalah hal yang sangat krusial adalah hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Komunikasi kita gimana sih dengan Tuhan? Baik apa nggak? Ibarat kita dengan seseorang, bagaimana kita bisa tahu apa yang menjadi keinginannya kalau kita tidak pernah berkomunikasi dengannya? Tidak mungkin pakai ilmu terawangan atau kira-kira. So, di sini pentingnya jaga HPDT (Hubungan Pribadi Dengan Tuhan) lewat SaTe (Saat Teduh), PA (Pemahaman Alkitab) atau Bible Reading. Kalau ditanya bagaimana berjuangnya menjaga HPDT, waooo...jangan tanya, pasti semua juga berjuang untuk bisa melakukannya. Di sini catatannya adalah usaha kita dalam melakukan itu. Catet! :)

Next, adalah bagaimana "menandai apa yang Tuhan tandai" bukan "menandai apa yang aku tandai". Mengapa menandai apa yang Tuhan tandai? Simple aja, kan yang mau kita ketahui kehendak Tuhan, ya terserah Tuhan dong mau menyatakannya atau menandainya pake apa dan gimana? :D Tapi seringkali yang terjadi - termasuk pengalaman yang pernah terjadi padaku ;) - kita bargain sama Tuhan, dengan mengatakan: Tuhan kalau tandanya ini, berarti iya, kalau itu berarti tidak. Dalam hal ini bukan berarti hal ini salah sama sekali, karena di sini penekanannya adalah pada apa yang Tuhan nyatakan atau tandai terhadap apa yang kita gumulkan, bisa sama seperti yang kita harapkan, bisa juga tidak. Dalam hal ini dibutuhkan kepekaan dan hikmat kita terhadap "tanda-tanda"-Nya yang tidak akan melenceng dari rhema Firman Tuhan hasil perenungan selama pergumulan kita. Dan kembali lagi kepekaan dan hikmat kita terhadap apa yang Tuhan tandai sangat dipengaruhi oleh kedekatan kita padaNya.

"Menandai apa yang Tuhan tandai" ini mengingatkan saya juga pada pengalaman bersama Tuhan dan Firman Tuhan dalam I Korintus 2:9:

"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah di dengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia".

Ayat ini mengingatkan saya tentang cara Tuhan menolong dan menjawab doa-doa saya melalui berbagai hal yang diluar jangkauan perkiraan sebagai manusia, bahkan seringkali di luar logika. Ada yang "menyenangkan", ada juga yang "menyakitkan" secara manusia. Tapi intinya adalah Tuhan menjawab dengan caraNya, tidak terbatas oleh keterbatasan manusia. Mungkin sama seperti yang kita inginkan, atau dengan cara yang tidak kita inginkan. Itulah kedaulatanNya karena Ia tahu yang terbaik bagi hidup kita.

Hal yang tidak kalah penting juga adalah, kita memerlukan orang lain (dalam hal ini yang kita anggap lebih senior atau lebih rohani) untuk menolong kita dalam pertimbangan berkaitan dengan mengetahui dan meyakini apa yang menjadi kehendak Tuhan. Karena walau bagaimanapun, saat mengalami sesuatu entah itu bergumul (punya masalah) atau sedang mengalami euforia kebahagiaan, kita cenderung menjadi pribadi yang sangat subyektif, sangat sensitif terhadap apapun yang ada di sekeliling kita, sehingga cara berpikir kita menjadi kurang logis. Contohnya saat sangat menginginkan sesuatu. Terkadang kita jadi berpikir bahwa segala usaha bisa kita lakukan untuk mencapai itu, padahal belum tentu itu baik untuk kita.  Atau kalau sedang jatuh cinta, segalanya akan terlihat baik-baik saja dan lancar-lancar saja. Padahal seperti di Amsal 12: 15 : " Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa yang mendengarkan nasihat, ia bijak." Kita memerlukan orang lain yang memiliki pandangan obyektif atas apa yang sedang kita hadapi. Kacamata mereka itu pasti pasti lebih bening, terang benderang dan jelas, tidak seperti kacamata kita yang warna-warni; bisa pink, biru, ungu, merah, orange, atau apapun lah...tergantung suasana hati ;D  

Sebuah lagu yang juga sangat menguatkan untuk bagian ini:

Ku yakin Tuhan tuntun langkahku
Serta membuka jalan bagiku
Jika sungguh berserah dan berdoa padaNya
Tuhan membuka jalan bagiku
(Pelengkap Kidung Jemaat 131).

Jangan takut Tuhan salah menuntun, Ia yang menciptakan kita, Ia juga tahu kelebihan-kekurangan kita, dan pastinya Ia tahu yang terbaik untuk orang-orang yang percaya padaNya. Amin.
Selamat bergumul & menemukan kehendakNya yang spesifik dalam hidup masing-masing.

God bless!

Minggu, 19 Mei 2013

Kebiasaan (26 April - 9 Mei 2013)

Kebiasaan...
Dimulai dengan dibiasakan dipanggil dengan panggilan tertentu.
Pertama-tama masih cuek-cuek saja, tidak peduli & dianggap angin lalu bin basa basi.
Hmmm...kok lama-lama panggilan itu mengusik telinga & menyentuh hati ya...
(Pelajarannya adalah: kata-kata yang diulang-ulang apalagi kata-kata yang positif, awalnya mungkin terabaikan, tapi lama kelamaan bisa menjadi sangat penting & menyentuh hati).

Kebiasaan lain...
Dibuat biasa dengan ingin mengetahui kabar & lama kelamaan jadi dibuat biasa untuk saling memberikan kabar.
(Pelajarannya adalah: perhatian sekecil apapun akan memberikan dampak yang sangat signifikan, sekecil apapun itu).

Kebiasaan lainnya...
Dibuat biasa dipanggil dengan julukan tertentu yang pastinya istimewa. Awalnya terasa bercanda saja & tidak ada yang perlu diseriusi. Lama kelamaan, julukan itu terasa melekat & sulit untuk dihilangkan.
(Pelajarannya adalah: julukan spesial bagaimanapun akan semakin mendekatkan satu dengan yang lainnya).

Kebiasaan yang melegakan...
Diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menyampaikan apa saja, mulai dari yang sangat penting sampai yang tidak penting sama sekali.

(Pelajarannya adalah: didengarkan dan merasa diterima serta dimengerti adalah kebutuhan terbesar siapa pun manusia, tidak peduli statusnya).


Dan...akhirnya aku menyadari, kebiasaan-kebiasaan itu telah "meracuniku" sedikit demi sedikit...aku menyadari kebiasaan-kebiasaan itu telah menjadi candu dalam diriku ketika kebiasaan-kebiasaan itu tidak ada.
Dan ketika akhirnya perasaan kehilangan itu menyeruak, aku baru menyadari bahwa kebiasaan-kebiasaan itu telah menyentuh hatiku.

Namun aku meyakinkan diri bahwa rasa sedih tidak akan melampaui realita tak mau bermain api dalam sekam ini. Tidak ingin menanyakan juga ingin menyesali, hanya ingin belajar dan terus mengambil hikmah dari bagian demi bagian yang telah terlalui.

Aku ingin mengatakan: "I can still happy...coz my happiness is not depend on outward dispotition but on my inward dispotition".

(NB: dear "J" you was be my inspiration in this note, I hope someday you will know that; thank u... luph :) )

Selasa, 30 April 2013

Dalam Kelemahan Manusialah Kuasa Tuhan Sempurna


Part 1
Sudah lama aku pengen nulis lagi di note, tapi belum ada ide cemerlang dan menggelitik hati yang sekiranya layak untuk ku-posting-kan (lebay.com, padahal karena males berat hihi...). Hingga hari ini aku bertemu dengan seseorang istimewa (tentu saja secara tidak sengaja) yang membuatku terinspirasi untuk berbagi lagi melalui tulisan.

Aku mulai dari beberapa waktu yang lalu deh... Dengan alasan atau niat membantu dan mempercepat urusan seseorang teman (urusan yang masih terkait kuliah lalu; karena kalau urusan dia beres maka 19 orang lain termasuk aku akan “terselamatkan” hihi...), hari ini aku bertemu dengan teman lain yang juga kuperlukan pertolongannya dalam urusan ini.
Singkat cerita, mulai dari perjalanan yang cukup panjang (tidak lain karena Jakarta yang bukan Jakarta kalau tidak macet), sampai tunggu-menunggu, hingga obrolan yang sangat jauh diluar jangkauan urusan alias ngalor-ngidul, tak terasa sudah sore banget (baca: jam sangat macet) di Jakarta. Akhirnya aku dan teman yang menemaniku dalam urusan ini, memutuskan untuk pulang malam aja sekalian yang kira-kira macetnya sedikit mendingan.

Perjalanan diawali dengan naik busway (yang sebenarnya bukan my favorite transportation in Jakarta, tapi karena tidak ada pilihan lain, “apbolbut=apabolehbuat”), lalu dilanjutkan dengan menyempatkan mampir di sebuah mall kecil untuk membeli sesuatu, kemudian naik angkot untuk sampai di tujuan akhir.
Ups...apa sih istimewanya cerita ini (naik angkot)?? Sabar..seperti yang kuceritakan di awal, di angkot yang gak ada istimewanya ini, ketika aku dan temanku asik ngobrol, tiba-tiba ada penumpang masuk. Lha ada apa dengan penumpang ini?? Ternyata ia bukan penumpang biasa, ia seorang tunanetra.

Awalnya kami sibuk dengan obrolan sendiri, ia pun sibuk dengan HP-nya yang aku tau memiliki fasilitas khusus untuknya. Akhirnya ada penumpang yakni seorang Bapak mengajak dia untuk mengobrol. Ia ditanya “mau turun dimana nanti?”, lalu dengan lancarnya ia menjawab dan menyebutkan suatu tempat, sekaligus menjelaskan karena kemalaman sudah tidak ada angkot lagi yang langsung ke tempat yang dimaksud, jadi harus pakai angkot ini dan dilanjutkan dengan pakai ojek. Dalam hatiku: wah hapal betul dia rute dan jadwal angkot. Tidak sampai disitu, bapak tadi (yang tampaknya sangat penasaran) bertanya lagi: “tadi habis dari mana?”, dengan senyum ia menjawab: “habis nengokin ‘calon’ saya”. Hmmm...dalam hatiku, Tuhan sungguh adil padanya, memberikan orang yang bersedia menerima dia apa adanya. Dia lalu balik bertanya dengan Bapak tadi: “Bapak dinas dimana?”. Wah..wah..wah..tau aja ya yang ngajak dia ngobrol seorang Bapak-Bapak yang baru pulang kerja. Si Bapak balik nanya: “kerja dimana?” dan dijawab “kebetulan saya seorang jurnalis pak..juga trainer”. Waduh..waduh..waduh.. jadi tambah penasaran saya untuk menyimak pembicaraan mereka.

Dengan lancarnya ia juga bercerita bahwa ia sudah terbiasa untuk bepergian seorang diri hingga ke luar negeri (ck..ck..ck..gue aja blom pernah sampe ke negara tetangga terdekat bo hehe...). Kemudian memberitahu bapak itu (dan kami) bahwa bisa membuka website tentang dirinya. Hu..hu..hu..kalah saya...saya aja belum punya blog. Saat sang Bapak memujinya “hebat ya...”, dia menjawab: “semua karena banyak latihan koq...” So humble...

Tak hanya sampai disitu, tak lama kemudian tiba-tiba ia mengatakan kepada sopir angkot: “ pak saya turun di... ya..”. Ow..ow..darimana ya dia tau kalau sudah hampir sampai. Dan saya di buat lebih terkaget-kaget lagi saat dia mengatakan “sebentar lagi saya turun” lalu langsung minta stop dan turun. OMG..sungguh Tuhan Maha Kuasa. 

Aku jadi teringat pada bacaanku beberapa hari lalu di buku PDL (purpose driven life); di bagian yang kubaca itu menekankan pada pengalaman rasul Paulus dimana sesuatu yang menjadi kelemahannya justru itulah yang dipakai Tuhan untuk menyatakan kuasaNya (kutipan bebasku=”dalam kelemahan Manusialah Kuasa Tuhan Sempurna”).

Part 2
Pagi ini aku coba membuka website milik pribadi istimewa tersebut, dan pada bagian awal tertulis “Ramaditya does what normal people don’t”. Tuhan sungguh luar biasa, memberikan banyak kelebihan kepada seseorang yang tampaknya punya ‘kekurangan’. Jadi teringat sekilas ucapannya di angkot tadi malam: “ yang error kan cuma matanya, yang lainnya kan normal semua”. Jadi pingin minjem keywords-nya Upin & Ipin: betul..betul..betul... Betul sekali bahwa, salah satu dari panca inderanya memang tidak berfungsi, namun masih banyak indera lain yang yang berfungsi “menggantikan dan melengkapi” yang tidak berfungsi tersebut. Jadi teringat juga ilustrasi tentang gelas yang berisi setengah bagian air; apakah itu dianggap setengah kosong atau setengah isi tergantung pada bagaimana cara pandang terhadap yang “setengah” itu, apakah akan disyukuri karena masih berisi setengah gelas atau disesali karena sudah kosong setengah gelasnya.

 “Tunanetra, Penulis, Wartawan, Blogger, Game Music Composer, Motivator” demikian tertulis di sampul buku yang berjudul: “Blind Power, Berdamai dengan Kegelapan”, yang tampaknya merupakan otobiografinya. Aku niatkan nanti akan mencari buku itu, penasaran bo bagaimana kisah hidupnya sampai ia akhirnya bisa berdamai dengan ‘kegelapan’ dan memaksimalkan kemampuan yang ia miliki, hingga bisa memiliki little words: “If you want to be loved, make yourself loveable”.

Dalam kelemahannya (‘kekurangan’/ketidakbisaanya) Tuhan memberikan banyak hal yang orang kebanyakan (‘orang normal’) belum tentu bisa lakukan. Misalnya saja, semua orang bisa menulis tapi apakah akan menjadi penulis? Belum tentu..contohnya saja saya, ngaku-ngaku punya minat menulis tapi tidak konsisten menulis (baca: males, hihi...) ya sama aja akan lambat perkembangan kemampuan menulisnya. Jadi wartawan? Banyak orang normal menjadi wartawan, tapi bagaimana dengan wartawan tunanetra, tentu tantangannya luarbiasa. Orang berpengelihatan baik saja bisa salah-salah mengetik, bagaimana dengan orang tunanetra? Tapi Rama justru mampu menggunakan laptop yang orang normal pakai dengan kemampuan 10 jari lagi (beda banget dengan akika yang punya kemampuan mengetik 11 jari hehehe...).

Kemampuan seringkali membuat seseorang egois dan merasa mampu tanpa campur tangan Tuhan, namun ketidakbisaan justru membuat seseorang berserah pada Tuhan sehingga nyata bahwa semua kemampuan hanyalah karena kuasaNya.

Aku teringat “Serenity Prayer” atau “Doa keheningan hati”  yang mengajarkan:
Tuhan berikanlah aku keheningan hati,
Untuk mengubah apa yang bisa aku ubah,
Menerima apa yang tidak bisa aku ubah,
Serta kebijaksanaan untuk membedakan keduanya,
Amin.

CATATAN: Tulisan ini dibuat pada 10 Maret 2011 pukul 8:33 PM.

"BEGITU DEKAT, TETAPI BEGITU JAUH"


Aku sangat terusik sekaligus tertarik dan kagum dengan ungkapan ironis yang menjadi judul salah satu bab di buku Finishing Well tulisan David W. F. Wong, salah satu penulis Kristen yang aku kagumi.

Judul ini nampaknya diambil untuk menggambarkan perjalanan kehidupan spiritual salah satu tokoh besar dalam Alkitab yakni Musa. Begitu dekat, menggambarkan bahwa perjalanan kehidupan Musa, yang notabene adalah salah satu manusia yang hidup dekat dengan Tuhan. Begitu jauh, menggambarkan akhir hidupnya tidaklah seindah atau seperti yang dibayangkan atau diharapkan sebagaimana “seharusnya” diterimanya. Ia tidak seperti kisah Cinderella yang “hidup bahagia selamanya” dengan pangerannya.

Kita semua suka akhir yang indah dari sebuah cerita, demikian Wong menulis. Selanjutnya, berakhir dengan baik tidak selalu akhir yang indah (menurutku, kata indah disini berarti “sesuai dengan yang diharapkan”). Musa meninggal di luar Tanah Perjanjian, ia tidak pernah menjejakkan kaki ke sana.

Mengikuti perjalanan kehidupan Musa, ia memang “jatuh bangun” dalam kehidupan kerohaniannya. Dimulai dari perdebatannya yang cukup “alot” ketika Tuhan memanggilnya. Wong menulis, Allah telah memanggil Musa untuk melakukan karya dalam hidupnya. Membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Membawa mereka melintasi gurun menuju Tanah Perjanjian. Selama 40 tahun dengan setia menjalankan misinya. Ia dengan setia bertahan dalam perjalanannya. Ia tahan dalam menghadapi ketegaran hati Firaun. Ia tahan dalam menghadapi hati yang tak bersyukur dari bangsa Israel. Kemudian, saat ia hampir dekat dengan Tanah Perjanjian, ia diberitahu: engkau tidak boleh masuk. Di sinilah engkau harus berhenti. Orang-orang akan masuk, tetapi engkau tetap berada di luar. Engkau akan menyisih; Yosua penerusmu akan memimpin mereka masuk Tanah Perjanjian.

Wong menggambarkan bahwa Musa telah melakukan segala sesuatu yang bisa ia lakukan selama 40 tahun terakhir karena ikrar yang dibuat oleh Allah...Allah telah berjanji, dan Musa telah menyimpan janji itu di dalam hatinya. Ia telah melihat janji itu digenapi selangkah demi selangkah. Ia telah melihat keajaiban yang diadakan Allah di Mesir untuk mengeluarkan bangsa itu. Ia telah melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan Allah di padang gurun yang dialami bangsa itu. Musa tidak pernah melupakan janji itu. Ia kini berdiri di tepi tanah yang dijanjikan itu (Karena itulah disebut tanah perjanjian). Ia memulai sebuah perjalanan, dan perjalanan itu akan berakhir. Ia hampir mencapai tujuannya. Hanya beberapa langkah lagi, dan ia akan mewujudkan sesuatu yang diimpikannya sepanjang hidupnya.

Namun Allah memiliki rencana lain, Musa akan memimpin bangsanya, tetapi hanya sampai ke Tanah Perjanjian dan tidak memasukinya. Saat membaca bagian ini aku membayangkan bagaimana perasaan Musa saat itu. Kecewakah ia? Ya, Musa juga manusia yang pasti bisa kecewa. Setelah semua yang ia jalani dengan susah payah, dengan bercucuran keringat, airmata, dan perasaan serta pengorbanan lainnya, Tuhan mengatakan padanya: “engkau tidak boleh masuk Tanah Perjanjian”.

Hal itu mirip dengan yang terjadi dalam kehidupan kita, yang mungkin pernah kita alami. Kita mengharapkan sesuatu, kita sudah hampir memilikinya. Namun, ketika hal itu tampaknya sudah bisa kita raih, kita tak bisa mendapatkannya.

Teringat pada tim Garuda Muda di Sea Games lalu. Saat final melawan Malaysia, mereka berjuang luar biasa hingga bisa mencapai skor imbang. Kemenangan tinggal selangkah lagi melalui adu penalti. Harapan dan keyakinan begitu besar dan semuanya sudah di depan mata. Namun, ada “hal-hal yang tidak dimengerti terjadi” yang menurut kebanyakan orang “faktor keberuntungan” atau “Dewi Fortuna” (aku lebih suka mengatakannya: “Perkenanan Tuhan”) sedang tidak berpihak kepada tim Garuda Muda. Mereka kalah dengan skor tipis. Ah, betapa aku turut merasakan kekecewaan mereka. Melihat ekspresi kekecewaan Titus Bonai dan Patrick Wanggai (yang dua-duanya sekarang masuk list pesepakbola favoritku :-) ) aku ikut menitikkan air mata...hiks...hiks...betapa kecewanya, tinggal sedikit lagi, apa yang diimpi-impikan terlepas begitu saja....

Tanah perjanjian apa yang kita tidak boleh masuki? Mimpi apa yang tidak bisa kita penuhi? Tujuan apa yang nampaknya selalu melampaui jangkauan kita? Hasrat apa yang ditolak Allah? Demikian pertanyaan yang diajukan Wong.

“Hampir sampai di tempat tujuan dan tidak diperbolehkan masuk”, mengapa demikian? Bila mengingat kejadian di Meriba kita dapat memahami bahwa Musa berdosa terhadap Tuhan dan kehilangan hak istimewa untuk memasuki Tanah Perjanjian. “...sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel...dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di tengah-tengah orang Israel.” Wong menyimpulkan, dalam peristiwa Meriba itu dosa Musa adalah: ketidaktaatan-ketidakpercayaan-tidak hormat kepada Tuhan. 

Apakah maksud Tuhan tidak memperbolehkan Musa masuk Tanah Perjanjian? Wong menjelaskan bahwa Allah merencanakan tujuan yang lebih besar dan lebih luas. Musa harus menyingkir agar Yosua penggantinya bisa bangkit sehingga mendapatkan posisi yang menonjol di mata bangsanya. Demi Yosua, Allah menghalangi Musa untuk masuk Tanah Perjanjian. Allah juga melakukan itu demi Musa. Ia telah menghadapi bagian tantangannya di padang gurun, tetapi tantangan di Tanah Perjanjian akan berbeda. Diperlukan pemimpin yang lebih muda seperti Yosua.

Meskipun pada akhirnya kita memahami maksud Tuhan atas Musa dan Bangsa Israel, namun tetap saja kita tidak boleh memandang enteng keseriusan dosa, demikian juga jangan menganggap enteng kasih karunia Allah.

Di bagian akhir bab, Wong menulis, dalam hidup ini, tidak semua keinginan dipenuhi. Kita dapat berakhir dengan baik bahkan ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Allah mungkin mengejutkan kita dengan ukuran kasih karuniaNya, pengertian waktuNya, bahkan segores sentuhan humorNya. Kita tidak pernah tahu kejutan apa yang disiapkan Allah bagi kita. Kisah kita belum berakhir sebelum Dia mengakhirinya – dan akhir kisahNya selalu sempurna.

Teringat syair sebuah lagu:

Dalam s’gala perkara Tuhan punya rencana
Yang lebih besar dari semua yang terpikirkan
Apapun yang Kau perbuat tidak ada maksud jahat
S’bab itu kulakukan denganMu Tuhan...

CATATAN: Tulisan ini dibuat pada 30 November 2011 pukul 11:25 PM.

Woman’s Pray

Lord, I pray for a man that will be a part of my life. 
A man really loves You more than everything. 
A man that lives not for himself but for You. 
He must know for whom and what he lives, so his life isn’t useless. 
Someone that has a wise heart not only a smart brain. 
A man that not only adores me, but can warn me when I’m wrong. 
A man that can be my best friend. 
A man that makes me feel like a woman when I’m beside him. 
I don’t ask for a perfect man but I ask for imperfect man. 
A man that needs my support, my love, my prayer for his life. 
Give me Your hands so I always be able to pray for him. 
Give me Your eyes, so I can see good things in him and not bad one. 
Give me Your mouth that is filled with Your words of wisdom so I can support him. 
And I want that finally both of us can say “How great Thou Art”. 
Amen.