Minggu, 26 Mei 2013

Mengetahui kehendak Tuhan


Minggu ini di KTB (kelompok Tumbuh Bersama) dengan 2 orang adik, kami membahas tentang Mengetahui kehendak Tuhan. Sangat menarik jadinya, karena ternyata contoh-contoh yang ada di buku bahan sebagian besar adalah apa yang dialami mereka sebagai remaja. Mulai dari mengetahui kehendak Tuhan tentang masa depan (studi), pacaran, sampai masalah yang kelihatannya kecil (sepele) seperti membeli BB, baju, dll. Salah satu adik sampai ketawa cekikikan waktu membaca bahan itu, dia bilang itulah yang dia alami, terutama saat menandai apakah itu kehendak Tuhan atau bukan. Pengalaman dia dulu katanya kalau menandai sesuatu, misalnya mau kemana-mana pasti ngomong: kalau gak hujan berarti kehendak Tuhan, sebaliknya kalau hujan berarti bukan kehendak Tuhan. Tapi si adik itu buru-buru meralat, "itu dulu kak karena belum tau bagaiman cara mengetahui kehendak Tuhan". Dan si kakaknya ini senyum-senyum aja karena ingat masa lalu yang gak jauh beda :D

Beberapa hari kemudian, aku membaca salah satu buku yang membahas tentang Bagaimana Mengerti Kehendak Tuhan yang di tulis oleh seorang hamba Tuhan. Aku sangat tergelitik dengan bagian contoh sangat real yang diberikan. Salah satu poin yang aku tandai adalah hal yang sangat krusial adalah hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Komunikasi kita gimana sih dengan Tuhan? Baik apa nggak? Ibarat kita dengan seseorang, bagaimana kita bisa tahu apa yang menjadi keinginannya kalau kita tidak pernah berkomunikasi dengannya? Tidak mungkin pakai ilmu terawangan atau kira-kira. So, di sini pentingnya jaga HPDT (Hubungan Pribadi Dengan Tuhan) lewat SaTe (Saat Teduh), PA (Pemahaman Alkitab) atau Bible Reading. Kalau ditanya bagaimana berjuangnya menjaga HPDT, waooo...jangan tanya, pasti semua juga berjuang untuk bisa melakukannya. Di sini catatannya adalah usaha kita dalam melakukan itu. Catet! :)

Next, adalah bagaimana "menandai apa yang Tuhan tandai" bukan "menandai apa yang aku tandai". Mengapa menandai apa yang Tuhan tandai? Simple aja, kan yang mau kita ketahui kehendak Tuhan, ya terserah Tuhan dong mau menyatakannya atau menandainya pake apa dan gimana? :D Tapi seringkali yang terjadi - termasuk pengalaman yang pernah terjadi padaku ;) - kita bargain sama Tuhan, dengan mengatakan: Tuhan kalau tandanya ini, berarti iya, kalau itu berarti tidak. Dalam hal ini bukan berarti hal ini salah sama sekali, karena di sini penekanannya adalah pada apa yang Tuhan nyatakan atau tandai terhadap apa yang kita gumulkan, bisa sama seperti yang kita harapkan, bisa juga tidak. Dalam hal ini dibutuhkan kepekaan dan hikmat kita terhadap "tanda-tanda"-Nya yang tidak akan melenceng dari rhema Firman Tuhan hasil perenungan selama pergumulan kita. Dan kembali lagi kepekaan dan hikmat kita terhadap apa yang Tuhan tandai sangat dipengaruhi oleh kedekatan kita padaNya.

"Menandai apa yang Tuhan tandai" ini mengingatkan saya juga pada pengalaman bersama Tuhan dan Firman Tuhan dalam I Korintus 2:9:

"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah di dengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia".

Ayat ini mengingatkan saya tentang cara Tuhan menolong dan menjawab doa-doa saya melalui berbagai hal yang diluar jangkauan perkiraan sebagai manusia, bahkan seringkali di luar logika. Ada yang "menyenangkan", ada juga yang "menyakitkan" secara manusia. Tapi intinya adalah Tuhan menjawab dengan caraNya, tidak terbatas oleh keterbatasan manusia. Mungkin sama seperti yang kita inginkan, atau dengan cara yang tidak kita inginkan. Itulah kedaulatanNya karena Ia tahu yang terbaik bagi hidup kita.

Hal yang tidak kalah penting juga adalah, kita memerlukan orang lain (dalam hal ini yang kita anggap lebih senior atau lebih rohani) untuk menolong kita dalam pertimbangan berkaitan dengan mengetahui dan meyakini apa yang menjadi kehendak Tuhan. Karena walau bagaimanapun, saat mengalami sesuatu entah itu bergumul (punya masalah) atau sedang mengalami euforia kebahagiaan, kita cenderung menjadi pribadi yang sangat subyektif, sangat sensitif terhadap apapun yang ada di sekeliling kita, sehingga cara berpikir kita menjadi kurang logis. Contohnya saat sangat menginginkan sesuatu. Terkadang kita jadi berpikir bahwa segala usaha bisa kita lakukan untuk mencapai itu, padahal belum tentu itu baik untuk kita.  Atau kalau sedang jatuh cinta, segalanya akan terlihat baik-baik saja dan lancar-lancar saja. Padahal seperti di Amsal 12: 15 : " Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa yang mendengarkan nasihat, ia bijak." Kita memerlukan orang lain yang memiliki pandangan obyektif atas apa yang sedang kita hadapi. Kacamata mereka itu pasti pasti lebih bening, terang benderang dan jelas, tidak seperti kacamata kita yang warna-warni; bisa pink, biru, ungu, merah, orange, atau apapun lah...tergantung suasana hati ;D  

Sebuah lagu yang juga sangat menguatkan untuk bagian ini:

Ku yakin Tuhan tuntun langkahku
Serta membuka jalan bagiku
Jika sungguh berserah dan berdoa padaNya
Tuhan membuka jalan bagiku
(Pelengkap Kidung Jemaat 131).

Jangan takut Tuhan salah menuntun, Ia yang menciptakan kita, Ia juga tahu kelebihan-kekurangan kita, dan pastinya Ia tahu yang terbaik untuk orang-orang yang percaya padaNya. Amin.
Selamat bergumul & menemukan kehendakNya yang spesifik dalam hidup masing-masing.

God bless!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar