Aku sangat terusik sekaligus tertarik dan kagum dengan ungkapan ironis yang menjadi judul salah satu bab di buku Finishing Well tulisan David W. F. Wong, salah satu penulis Kristen yang aku kagumi.
Judul ini nampaknya diambil untuk menggambarkan perjalanan kehidupan spiritual salah satu tokoh besar dalam Alkitab yakni Musa. Begitu dekat, menggambarkan bahwa perjalanan kehidupan Musa, yang notabene adalah salah satu manusia yang hidup dekat dengan Tuhan. Begitu jauh, menggambarkan akhir hidupnya tidaklah seindah atau seperti yang dibayangkan atau diharapkan sebagaimana “seharusnya” diterimanya. Ia tidak seperti kisah Cinderella yang “hidup bahagia selamanya” dengan pangerannya.
Kita semua suka akhir yang indah dari sebuah cerita, demikian Wong menulis. Selanjutnya, berakhir dengan baik tidak selalu akhir yang indah (menurutku, kata indah disini berarti “sesuai dengan yang diharapkan”). Musa meninggal di luar Tanah Perjanjian, ia tidak pernah menjejakkan kaki ke sana.
Mengikuti perjalanan kehidupan Musa, ia memang “jatuh bangun” dalam kehidupan kerohaniannya. Dimulai dari perdebatannya yang cukup “alot” ketika Tuhan memanggilnya. Wong menulis, Allah telah memanggil Musa untuk melakukan karya dalam hidupnya. Membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Membawa mereka melintasi gurun menuju Tanah Perjanjian. Selama 40 tahun dengan setia menjalankan misinya. Ia dengan setia bertahan dalam perjalanannya. Ia tahan dalam menghadapi ketegaran hati Firaun. Ia tahan dalam menghadapi hati yang tak bersyukur dari bangsa Israel. Kemudian, saat ia hampir dekat dengan Tanah Perjanjian, ia diberitahu: engkau tidak boleh masuk. Di sinilah engkau harus berhenti. Orang-orang akan masuk, tetapi engkau tetap berada di luar. Engkau akan menyisih; Yosua penerusmu akan memimpin mereka masuk Tanah Perjanjian.
Wong menggambarkan bahwa Musa telah melakukan segala sesuatu yang bisa ia lakukan selama 40 tahun terakhir karena ikrar yang dibuat oleh Allah...Allah telah berjanji, dan Musa telah menyimpan janji itu di dalam hatinya. Ia telah melihat janji itu digenapi selangkah demi selangkah. Ia telah melihat keajaiban yang diadakan Allah di Mesir untuk mengeluarkan bangsa itu. Ia telah melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan Allah di padang gurun yang dialami bangsa itu. Musa tidak pernah melupakan janji itu. Ia kini berdiri di tepi tanah yang dijanjikan itu (Karena itulah disebut tanah perjanjian). Ia memulai sebuah perjalanan, dan perjalanan itu akan berakhir. Ia hampir mencapai tujuannya. Hanya beberapa langkah lagi, dan ia akan mewujudkan sesuatu yang diimpikannya sepanjang hidupnya.
Namun Allah memiliki rencana lain, Musa akan memimpin bangsanya, tetapi hanya sampai ke Tanah Perjanjian dan tidak memasukinya. Saat membaca bagian ini aku membayangkan bagaimana perasaan Musa saat itu. Kecewakah ia? Ya, Musa juga manusia yang pasti bisa kecewa. Setelah semua yang ia jalani dengan susah payah, dengan bercucuran keringat, airmata, dan perasaan serta pengorbanan lainnya, Tuhan mengatakan padanya: “engkau tidak boleh masuk Tanah Perjanjian”.
Hal itu mirip dengan yang terjadi dalam kehidupan kita, yang mungkin pernah kita alami. Kita mengharapkan sesuatu, kita sudah hampir memilikinya. Namun, ketika hal itu tampaknya sudah bisa kita raih, kita tak bisa mendapatkannya.
Teringat pada tim Garuda Muda di Sea Games lalu. Saat final melawan Malaysia, mereka berjuang luar biasa hingga bisa mencapai skor imbang. Kemenangan tinggal selangkah lagi melalui adu penalti. Harapan dan keyakinan begitu besar dan semuanya sudah di depan mata. Namun, ada “hal-hal yang tidak dimengerti terjadi” yang menurut kebanyakan orang “faktor keberuntungan” atau “Dewi Fortuna” (aku lebih suka mengatakannya: “Perkenanan Tuhan”) sedang tidak berpihak kepada tim Garuda Muda. Mereka kalah dengan skor tipis. Ah, betapa aku turut merasakan kekecewaan mereka. Melihat ekspresi kekecewaan Titus Bonai dan Patrick Wanggai (yang dua-duanya sekarang masuk list pesepakbola favoritku :-) ) aku ikut menitikkan air mata...hiks...hiks...betapa kecewanya, tinggal sedikit lagi, apa yang diimpi-impikan terlepas begitu saja....
Tanah perjanjian apa yang kita tidak boleh masuki? Mimpi apa yang tidak bisa kita penuhi? Tujuan apa yang nampaknya selalu melampaui jangkauan kita? Hasrat apa yang ditolak Allah? Demikian pertanyaan yang diajukan Wong.
“Hampir sampai di tempat tujuan dan tidak diperbolehkan masuk”, mengapa demikian? Bila mengingat kejadian di Meriba kita dapat memahami bahwa Musa berdosa terhadap Tuhan dan kehilangan hak istimewa untuk memasuki Tanah Perjanjian. “...sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel...dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di tengah-tengah orang Israel.” Wong menyimpulkan, dalam peristiwa Meriba itu dosa Musa adalah: ketidaktaatan-ketidakpercayaan-tidak hormat kepada Tuhan.
Apakah maksud Tuhan tidak memperbolehkan Musa masuk Tanah Perjanjian? Wong menjelaskan bahwa Allah merencanakan tujuan yang lebih besar dan lebih luas. Musa harus menyingkir agar Yosua penggantinya bisa bangkit sehingga mendapatkan posisi yang menonjol di mata bangsanya. Demi Yosua, Allah menghalangi Musa untuk masuk Tanah Perjanjian. Allah juga melakukan itu demi Musa. Ia telah menghadapi bagian tantangannya di padang gurun, tetapi tantangan di Tanah Perjanjian akan berbeda. Diperlukan pemimpin yang lebih muda seperti Yosua.
Meskipun pada akhirnya kita memahami maksud Tuhan atas Musa dan Bangsa Israel, namun tetap saja kita tidak boleh memandang enteng keseriusan dosa, demikian juga jangan menganggap enteng kasih karunia Allah.
Di bagian akhir bab, Wong menulis, dalam hidup ini, tidak semua keinginan dipenuhi. Kita dapat berakhir dengan baik bahkan ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Allah mungkin mengejutkan kita dengan ukuran kasih karuniaNya, pengertian waktuNya, bahkan segores sentuhan humorNya. Kita tidak pernah tahu kejutan apa yang disiapkan Allah bagi kita. Kisah kita belum berakhir sebelum Dia mengakhirinya – dan akhir kisahNya selalu sempurna.
Teringat syair sebuah lagu:
Dalam s’gala perkara Tuhan punya rencana
Yang lebih besar dari semua yang terpikirkan
Apapun yang Kau perbuat tidak ada maksud jahat
S’bab itu kulakukan denganMu Tuhan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar