Part 1
Sudah lama aku pengen nulis lagi di note, tapi belum ada ide cemerlang dan menggelitik hati yang sekiranya layak untuk ku-posting-kan (lebay.com, padahal karena males berat hihi...). Hingga hari ini aku bertemu dengan seseorang istimewa (tentu saja secara tidak sengaja) yang membuatku terinspirasi untuk berbagi lagi melalui tulisan.
Aku mulai dari beberapa waktu yang lalu deh... Dengan alasan atau niat membantu dan mempercepat urusan seseorang teman (urusan yang masih terkait kuliah lalu; karena kalau urusan dia beres maka 19 orang lain termasuk aku akan “terselamatkan” hihi...), hari ini aku bertemu dengan teman lain yang juga kuperlukan pertolongannya dalam urusan ini.
Singkat cerita, mulai dari perjalanan yang cukup panjang (tidak lain karena Jakarta yang bukan Jakarta kalau tidak macet), sampai tunggu-menunggu, hingga obrolan yang sangat jauh diluar jangkauan urusan alias ngalor-ngidul, tak terasa sudah sore banget (baca: jam sangat macet) di Jakarta. Akhirnya aku dan teman yang menemaniku dalam urusan ini, memutuskan untuk pulang malam aja sekalian yang kira-kira macetnya sedikit mendingan.
Perjalanan diawali dengan naik busway (yang sebenarnya bukan my favorite transportation in Jakarta, tapi karena tidak ada pilihan lain, “apbolbut=apabolehbuat”), lalu dilanjutkan dengan menyempatkan mampir di sebuah mall kecil untuk membeli sesuatu, kemudian naik angkot untuk sampai di tujuan akhir.
Ups...apa sih istimewanya cerita ini (naik angkot)?? Sabar..seperti yang kuceritakan di awal, di angkot yang gak ada istimewanya ini, ketika aku dan temanku asik ngobrol, tiba-tiba ada penumpang masuk. Lha ada apa dengan penumpang ini?? Ternyata ia bukan penumpang biasa, ia seorang tunanetra.
Awalnya kami sibuk dengan obrolan sendiri, ia pun sibuk dengan HP-nya yang aku tau memiliki fasilitas khusus untuknya. Akhirnya ada penumpang yakni seorang Bapak mengajak dia untuk mengobrol. Ia ditanya “mau turun dimana nanti?”, lalu dengan lancarnya ia menjawab dan menyebutkan suatu tempat, sekaligus menjelaskan karena kemalaman sudah tidak ada angkot lagi yang langsung ke tempat yang dimaksud, jadi harus pakai angkot ini dan dilanjutkan dengan pakai ojek. Dalam hatiku: wah hapal betul dia rute dan jadwal angkot. Tidak sampai disitu, bapak tadi (yang tampaknya sangat penasaran) bertanya lagi: “tadi habis dari mana?”, dengan senyum ia menjawab: “habis nengokin ‘calon’ saya”. Hmmm...dalam hatiku, Tuhan sungguh adil padanya, memberikan orang yang bersedia menerima dia apa adanya. Dia lalu balik bertanya dengan Bapak tadi: “Bapak dinas dimana?”. Wah..wah..wah..tau aja ya yang ngajak dia ngobrol seorang Bapak-Bapak yang baru pulang kerja. Si Bapak balik nanya: “kerja dimana?” dan dijawab “kebetulan saya seorang jurnalis pak..juga trainer”. Waduh..waduh..waduh.. jadi tambah penasaran saya untuk menyimak pembicaraan mereka.
Dengan lancarnya ia juga bercerita bahwa ia sudah terbiasa untuk bepergian seorang diri hingga ke luar negeri (ck..ck..ck..gue aja blom pernah sampe ke negara tetangga terdekat bo hehe...). Kemudian memberitahu bapak itu (dan kami) bahwa bisa membuka website tentang dirinya. Hu..hu..hu..kalah saya...saya aja belum punya blog. Saat sang Bapak memujinya “hebat ya...”, dia menjawab: “semua karena banyak latihan koq...” So humble...
Tak hanya sampai disitu, tak lama kemudian tiba-tiba ia mengatakan kepada sopir angkot: “ pak saya turun di... ya..”. Ow..ow..darimana ya dia tau kalau sudah hampir sampai. Dan saya di buat lebih terkaget-kaget lagi saat dia mengatakan “sebentar lagi saya turun” lalu langsung minta stop dan turun. OMG..sungguh Tuhan Maha Kuasa.
Aku jadi teringat pada bacaanku beberapa hari lalu di buku PDL (purpose driven life); di bagian yang kubaca itu menekankan pada pengalaman rasul Paulus dimana sesuatu yang menjadi kelemahannya justru itulah yang dipakai Tuhan untuk menyatakan kuasaNya (kutipan bebasku=”dalam kelemahan Manusialah Kuasa Tuhan Sempurna”).
Part 2
Pagi ini aku coba membuka website milik pribadi istimewa tersebut, dan pada bagian awal tertulis “Ramaditya does what normal people don’t”. Tuhan sungguh luar biasa, memberikan banyak kelebihan kepada seseorang yang tampaknya punya ‘kekurangan’. Jadi teringat sekilas ucapannya di angkot tadi malam: “ yang error kan cuma matanya, yang lainnya kan normal semua”. Jadi pingin minjem keywords-nya Upin & Ipin: betul..betul..betul... Betul sekali bahwa, salah satu dari panca inderanya memang tidak berfungsi, namun masih banyak indera lain yang yang berfungsi “menggantikan dan melengkapi” yang tidak berfungsi tersebut. Jadi teringat juga ilustrasi tentang gelas yang berisi setengah bagian air; apakah itu dianggap setengah kosong atau setengah isi tergantung pada bagaimana cara pandang terhadap yang “setengah” itu, apakah akan disyukuri karena masih berisi setengah gelas atau disesali karena sudah kosong setengah gelasnya.
“Tunanetra, Penulis, Wartawan, Blogger, Game Music Composer, Motivator” demikian tertulis di sampul buku yang berjudul: “Blind Power, Berdamai dengan Kegelapan”, yang tampaknya merupakan otobiografinya. Aku niatkan nanti akan mencari buku itu, penasaran bo bagaimana kisah hidupnya sampai ia akhirnya bisa berdamai dengan ‘kegelapan’ dan memaksimalkan kemampuan yang ia miliki, hingga bisa memiliki little words: “If you want to be loved, make yourself loveable”.
Dalam kelemahannya (‘kekurangan’/ketidakbisaanya) Tuhan memberikan banyak hal yang orang kebanyakan (‘orang normal’) belum tentu bisa lakukan. Misalnya saja, semua orang bisa menulis tapi apakah akan menjadi penulis? Belum tentu..contohnya saja saya, ngaku-ngaku punya minat menulis tapi tidak konsisten menulis (baca: males, hihi...) ya sama aja akan lambat perkembangan kemampuan menulisnya. Jadi wartawan? Banyak orang normal menjadi wartawan, tapi bagaimana dengan wartawan tunanetra, tentu tantangannya luarbiasa. Orang berpengelihatan baik saja bisa salah-salah mengetik, bagaimana dengan orang tunanetra? Tapi Rama justru mampu menggunakan laptop yang orang normal pakai dengan kemampuan 10 jari lagi (beda banget dengan akika yang punya kemampuan mengetik 11 jari hehehe...).
Kemampuan seringkali membuat seseorang egois dan merasa mampu tanpa campur tangan Tuhan, namun ketidakbisaan justru membuat seseorang berserah pada Tuhan sehingga nyata bahwa semua kemampuan hanyalah karena kuasaNya.
Aku teringat “Serenity Prayer” atau “Doa keheningan hati” yang mengajarkan:
Tuhan berikanlah aku keheningan hati,
Untuk mengubah apa yang bisa aku ubah,
Menerima apa yang tidak bisa aku ubah,
Serta kebijaksanaan untuk membedakan keduanya,
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar