“Bila ambisi
mantap seseorang adalah mengikuti rencana Tuhan baginya, maka ia memiliki
Bintang Utara yang senantiasa terlihat untuk menuntunnya melewati lautan
apapun, betapapun tak bertepinya itu tampaknya. Ia memiliki kompas yang menunjukkan arah
yang benar dalam kabut yang paling tebal dan badai yang paling ganas sekalipun,
serta tidak terganggu meski ada gunung batu magnetis.” (S.D. Gordon)
Jika Anda ditanya,
apakah tujuanmu hidup di dunia? Masing-masing orang pasti punya jawabannya
sendiri-sendiri; ada yang memang sudah yakin atau mantap, ada yang masih agak
ragu-ragu, bahkan ada yang sama sekali masih bingung untuk apa sebenarnya dia
hadir di dunia.
Menjawab pertanyaan di
atas dapat di analogikan pula dengan pertanyaan berikut: “Jika Anda mau tau apa
manfaat sebuah benda, kepada siapakah Anda akan menanyakannya?” Kepada
penjualnya bisa saja, tapi penjualnya sendiri pasti mendapatkan informasinya
dari sumber awal juga. Siapakah sumber awal itu? Tidak lain adalah orang yang
membuat benda itu. Sama seperti manusia, jika ingin mengetahui apa tujuannya
hidup di dunia, maka kepada Tuhan Allah yang menciptakannya ia harus bertanya.
Karena manusia masing-masing ada keunikannya (kelebihan-kekurangan, dll), maka
pastilah Tuhan juga menciptakan masing-masing dengan tujuannya yang spesifik; walaupun
tujuan umum hidup kita adalah sama yakni memuliakan Tuhan, namun memuliakan
Tuhan melalui keunikan masing-masing itulah yang membuat kita tidak bisa
menyamakan tujuan spesifik satu dengan yang lainnya.
Dalam kitab Amsal
dengan jelas di katakan: tanpa wahyu (visi), menjadi liarlah rakyat (Amsal
129:18). Visi atau tujuan hidup membuat seseorang bisa fokus dan tidak
terpengaruh apapun godaan yang ada di sekelilingnya. Sebaliknya, tanpa memiliki
visi atau tujuan hidup, sesatlah kehidupan seseorang, karena ia bagaikan
berjalan dalam kegelapan, tanpa penerang dan petunjuk, tidak tahu arah mau
kemana. Orang yang tanpa tujuan hidup tidak mampu membedakan apakah sesuatu itu
penting atau tidak penting, apa yang menjadi keinginannya itu sajalah yang
dilakukannya.
Berkaitan dengan tujuan
hidup, yang paling menjadi sorotan adalah kaum muda, karena kehidupannya yang
tampak “enjoy aja”, apa yang diinginkan itu yang dilakukan, tanpa ada
pertimbangan kritis dan seolah-olah hidup hanya saat ini saja. Jika kita
memperhatikan dari karakteristik orang muda berdasarkan fase perkembangannya,
kita bisa memaklumi bahwa pada usia ini (antara 12 – 18 Tahun) merupakan masa mencari
jati diri; ingin bebas, ingin berkuasa dan bisa menentukan dirinya sendiri. Terutama
pada usia remaja pertengahan (15 – 16 Tahun) merupakan masa dimana rasa ingin
tahu dan mencoba sesuatu yang baru sangat menonjol. Ini karena pada dasarnya
mereka menyukai sensasi; selalu ingin sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.
Akibatnya mereka menjadi kurang bisa fokus terhadap apapun yang sedang
dilakukan atau dikerjakannya. Karena itu wajarlah bila mereka belum mantap
prinsip hidupnya.
Disinilah peranan orang
tua dan orang lain (guru atau pembina rohani) menolong anak muda agar memiliki
visi hidup yang benar. Karena visi atau tujuan hidup dipengaruhi oleh apa yang
dinilai merupakan hal yang paling berharga dalam hidup seseorang. Jika yang
paling berharga adalah Tuhan, maka fokus atau tujuan atau visi hidupnya
mengarah kepada penciptaNya; kepada semua hal yang menyenangkan dan
memuliakanNya.
Kesimpulan: Jika hidup
seorang muda sudah men-Tuhan-kan Kristus dalam hidupnya, maka godaan-godaan populer
di dunia tidak akan mengggoyahkan tujuan hidupnya yang adalah memuliakan Tuhan
melalui hal-hal spesifik yang Tuhan berikan padanya (talenta-bakat-kemampuan).
Saran: Visi hidup
memuliakan Tuhan bisa ditanamkan sejak dini. Peran orang tua dan pembina rohani
adalah menanamkan hal tersebut pada anak sedini mungkin. Agar fokus hidupnya
adalah Tuhan bukan hal-hal “duniawi” lainnya.
Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA edisi November 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar