Selasa, 14 Januari 2014

TUJUAN ATAU KEINGINAN?

 “Bila ambisi mantap seseorang adalah mengikuti rencana Tuhan baginya, maka ia memiliki Bintang Utara yang senantiasa terlihat untuk menuntunnya melewati lautan apapun, betapapun tak bertepinya itu tampaknya. Ia memiliki kompas yang menunjukkan arah yang benar dalam kabut yang paling tebal dan badai yang paling ganas sekalipun, serta tidak terganggu meski ada gunung batu magnetis.” (S.D. Gordon)

Jika Anda ditanya, apakah tujuanmu hidup di dunia? Masing-masing orang pasti punya jawabannya sendiri-sendiri; ada yang memang sudah yakin atau mantap, ada yang masih agak ragu-ragu, bahkan ada yang sama sekali masih bingung untuk apa sebenarnya dia hadir di dunia.
Menjawab pertanyaan di atas dapat di analogikan pula dengan pertanyaan berikut: “Jika Anda mau tau apa manfaat sebuah benda, kepada siapakah Anda akan menanyakannya?” Kepada penjualnya bisa saja, tapi penjualnya sendiri pasti mendapatkan informasinya dari sumber awal juga. Siapakah sumber awal itu? Tidak lain adalah orang yang membuat benda itu. Sama seperti manusia, jika ingin mengetahui apa tujuannya hidup di dunia, maka kepada Tuhan Allah yang menciptakannya ia harus bertanya. Karena manusia masing-masing ada keunikannya (kelebihan-kekurangan, dll), maka pastilah Tuhan juga menciptakan masing-masing dengan tujuannya yang spesifik; walaupun tujuan umum hidup kita adalah sama yakni memuliakan Tuhan, namun memuliakan Tuhan melalui keunikan masing-masing itulah yang membuat kita tidak bisa menyamakan tujuan spesifik satu dengan yang lainnya.
Dalam kitab Amsal dengan jelas di katakan: tanpa wahyu (visi), menjadi liarlah rakyat (Amsal 129:18). Visi atau tujuan hidup membuat seseorang bisa fokus dan tidak terpengaruh apapun godaan yang ada di sekelilingnya. Sebaliknya, tanpa memiliki visi atau tujuan hidup, sesatlah kehidupan seseorang, karena ia bagaikan berjalan dalam kegelapan, tanpa penerang dan petunjuk, tidak tahu arah mau kemana. Orang yang tanpa tujuan hidup tidak mampu membedakan apakah sesuatu itu penting atau tidak penting, apa yang menjadi keinginannya itu sajalah yang dilakukannya.
Berkaitan dengan tujuan hidup, yang paling menjadi sorotan adalah kaum muda, karena kehidupannya yang tampak “enjoy aja”, apa yang diinginkan itu yang dilakukan, tanpa ada pertimbangan kritis dan seolah-olah hidup hanya saat ini saja. Jika kita memperhatikan dari karakteristik orang muda berdasarkan fase perkembangannya, kita bisa memaklumi bahwa pada usia ini (antara 12 – 18 Tahun) merupakan masa mencari jati diri; ingin bebas, ingin berkuasa dan bisa menentukan dirinya sendiri. Terutama pada usia remaja pertengahan (15 – 16 Tahun) merupakan masa dimana rasa ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru sangat menonjol. Ini karena pada dasarnya mereka menyukai sensasi; selalu ingin sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Akibatnya mereka menjadi kurang bisa fokus terhadap apapun yang sedang dilakukan atau dikerjakannya. Karena itu wajarlah bila mereka belum mantap prinsip hidupnya.
Disinilah peranan orang tua dan orang lain (guru atau pembina rohani) menolong anak muda agar memiliki visi hidup yang benar. Karena visi atau tujuan hidup dipengaruhi oleh apa yang dinilai merupakan hal yang paling berharga dalam hidup seseorang. Jika yang paling berharga adalah Tuhan, maka fokus atau tujuan atau visi hidupnya mengarah kepada penciptaNya; kepada semua hal yang menyenangkan dan memuliakanNya.
Kesimpulan: Jika hidup seorang muda sudah men-Tuhan-kan Kristus dalam hidupnya, maka godaan-godaan populer di dunia tidak akan mengggoyahkan tujuan hidupnya yang adalah memuliakan Tuhan melalui hal-hal spesifik yang Tuhan berikan padanya (talenta-bakat-kemampuan).

Saran: Visi hidup memuliakan Tuhan bisa ditanamkan sejak dini. Peran orang tua dan pembina rohani adalah menanamkan hal tersebut pada anak sedini mungkin. Agar fokus hidupnya adalah Tuhan bukan hal-hal “duniawi” lainnya.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA edisi November 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar