Selasa, 14 Januari 2014

Ketaatan: Sebuah Pilihan

Ketaatan dengan akar kata taat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai senantiasa tunduk (misalnya kepada Tuhan, pemerintah,dsb); patuh: misalnya seorang istri terhadap suami, anak terhadap orang tua; tidak berlaku curang; setia; saleh; kuat beribadah: misalnya seseorang yang rajin ke gereja atau membaca Alkitab.

Ketaatan yang identik dengan kepatuhan, di masa kini nampaknya semakin menjadi hal yang langka dan mahal. Karyawan yang melanggar aturan di kantornya, anak yang memberontak atau melawan pada orang tua, mahasiswa yang melakukan demo menentang rektornya, bahkan dalam lingkungan rohani (gereja), bukanlah hal yang mengejutkan kala kita mendengar atau menyaksikan sendiri ada majelis atau jemaat yang “semaunya” pada pendetanya dengan alasan-alasan tertentu yang masuk akal maupun yang tidak masuk akal.

Pertanyaan besarnya: mengapa manusia bisa taat atau tidak taat? Jawaban sederhana dan praktis adalah, karena manusia punya pikiran, perasaan dan kehendak; ia bebas membuat atau menentukan pilihan dalam hidupnya. Alasan tersebut mempengaruhinya untuk memutuskan taat atau tidak terhadap aturan atau figur otoritas (pemimpin atau penguasa).

Secara umum latar belakang kehidupan seseorang sangat mempengaruhi perilakunya, termasuk juga dalam hal ini perilaku taat (ketaatan). Berbicara mengenai latar belakang seseorang, tentu sangat luas sekali, namun pada bagian ini akan dijelaskan mengenai latar belakang keluarga (dalam hal ini pola asuh), pendidikan, lingkungan sosial (teman), serta pengalaman-pengalaman hidup, yang mempengaruhi perilaku taat seseorang.
1.    Pola asuh dalam keluarga
Ada tipe pola asuh tertentu yang kondusif bagi perkembangan diri anak dalam hal perilaku taat. Erik H. Erikson (pakar perkembangan manusia) menjelaskan bahwa dalam perkembangannya seseorang harus melalui tahap-tahap perkembangan psikososial (perkembangan yang melibatkan faktor-faktor psikologis dalam diri seseorang dengan faktor-faktor sosial yang berasal dari luar diri seseorang). Dimana tahap perkembangan psikososial yang sebelumnya sangat mempengaruhi tahap perkembangan psikososial berikutnya. Perilaku taat (ketaatan) erat kaitannya dengan pengajaran tentang kedisiplinan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak pada masa kecilnya. Anak yang terbiasa disiplin akan lebih mudah untuk taat pada aturan atau figur otoritas. Sebaliknya, anak yang sejak kecilnya tidak dilatih disiplin akan sangat sulit menyesuaikan diri dalam situasi yang penuh aturan atau diatur oleh seseorang. Pola asuh yang cenderung ‘ekstrim’ seperti otoriter (serba melarang) atau permisif (serba membolehkan) tentu saja juga tidak mendukung perilaku taat anak yang wajar.
2.    Pendidikan
Seiring dengan meningkatnya pendidikan seseorang, logika dalam berpikir tentunya juga berkembang. Secara rasional ia akan cukup mampu memilah dan memilih untuk menentukan sikap yang terbaik dalam menghadapi aturan atau figur otoritas, serta tidak langsung berperilaku negatif (tidak taat atau membangkang).
3.    Lingkungan sosial
Siapa teman terdekat seseorang? Ada pepatah yang menyatakan: jika ingin mengetahui bagaimana seseorang, ketahuilah siapa teman dekatnya. Alkitab juga jelas menyatakan bahwa teman sangat mempengaruhi kita; “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik”.
4.    Pengalaman hidup
Apa saja peristiwa-peristiwa penting yang dialami seseorang. Bagian mana yang membuat dia terluka? Bisa jadi pengalaman buruk di masa lalu yang tidak diselesaikan dengan baik membuat seseorang melakukan mekanisme pertahanan diri (defens mechanism) dengan berperilaku negatif atau agresif, dalam hal ini membangkang atau tidak taat. 
5.    Kepribadian
Setiap orang (manusia) memiliki kecenderungan kepribadiannya masing-masing; kecenderungan kepribadian ini membuat masing-masing orang juga bereaksi secara khas terhadap apapun termasuk dalam hal ketaatan. Ada kecenderungan kepribadian seseorang yang disebut “antisocial tendency” dengan ciri-ciri: sukar diatur, sulit mematuhi ketentuan (aturan) yang berlaku, menentang figur otoriter (misalnya pimpinan), cenderung melakukan perbuatan menyimpang (tidak sesuai dengan norma sosial pada umumnya).
6.    Sosial-ekonomi
Tingkat sosial-ekonomi cenderung mempengaruhi seseorang mudah atau tidak mudah untuk taat. Tingkat sosial-ekonomi yang tinggi mengindikasikan kemampuan atau kekuatan, yang membuatnya cenderung tidak mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain. Hal inilah yang mempengaruhi ketaatannya pada figur otoritas atau aturan.

Kesimpulan:

Terdapat faktor eksternal (yang berasal dari luar diri) serta faktor internal (yang berasal dari dalam diri) mempengaruhi perilaku taat (ketaatan) seseorang. Orang tua memiliki peranan yang besar dalam mempersiapkan anaknya menjadi pribadi yang memiliki perilaku taat yang adekuat (sesuai dan wajar), bukan pribadi yang tidak punya prinsip atau mudah dipengaruhi oleh lingkungannya apalagi yang antisosial. Di sisi lain, kecenderungan kepribadian masing-masing orang membuatnya bereaksi secara khas terhadap apapun termasuk dalam hal taat atau tidak taat terhadap aturan atau figur otoritas. Perilaku taat yang adekuat (taat terhadap figur atau aturan yang memang patut kita taati) merupakan pilihan. Seperti pengajaran Tuhan Yesus pada waktu ditanyai mengenai apa yang patut diberikan kepada Kaisar. Dengan bijaksana Tuhan Yesus mengajarkan bahwa: “berikanlah kepada Kaisar apa yang patut diberikan kepadanya”. Aplikasinya adalah: kita semestinya berlaku taat kepada ‘apa yang patut kita taati’. Tanda kutip disini menyatakan bahwa kita patut menggunakan akal sehat (pertimbangan logis) dalam melakukan ketaatan kita, karena kita dianugerahi oleh Tuhan pikiran, perasaan, dan kemauan. Di atas semuanya itu kita memerlukan hikmat dari Tuhan dalam melakukan segala sesuatu, karena tuntunan dariNya tidak akan salah dalam hal kepada siapa kita harus taat di dunia ini.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA Edisi Oktober 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar