Ketaatan dengan
akar kata taat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai
senantiasa tunduk (misalnya kepada Tuhan, pemerintah,dsb); patuh: misalnya seorang istri terhadap suami, anak
terhadap orang tua; tidak berlaku curang; setia; saleh; kuat beribadah:
misalnya seseorang yang rajin ke gereja atau membaca Alkitab.
Ketaatan yang
identik dengan kepatuhan, di masa kini nampaknya semakin menjadi hal yang
langka dan mahal. Karyawan yang melanggar aturan di kantornya, anak yang
memberontak atau melawan pada orang tua, mahasiswa yang melakukan demo
menentang rektornya, bahkan dalam lingkungan rohani (gereja), bukanlah hal yang
mengejutkan kala kita mendengar atau menyaksikan sendiri ada majelis atau
jemaat yang “semaunya” pada pendetanya dengan alasan-alasan tertentu yang masuk
akal maupun yang tidak masuk akal.
Pertanyaan
besarnya: mengapa manusia bisa taat atau tidak taat? Jawaban sederhana dan
praktis adalah, karena manusia punya pikiran, perasaan dan kehendak; ia bebas
membuat atau menentukan pilihan dalam hidupnya. Alasan tersebut mempengaruhinya
untuk memutuskan taat atau tidak terhadap aturan atau figur otoritas (pemimpin
atau penguasa).
Secara umum
latar belakang kehidupan seseorang sangat mempengaruhi perilakunya, termasuk
juga dalam hal ini perilaku taat (ketaatan). Berbicara mengenai latar belakang seseorang,
tentu sangat luas sekali, namun pada bagian ini akan dijelaskan mengenai latar
belakang keluarga (dalam hal ini pola asuh), pendidikan, lingkungan sosial
(teman), serta pengalaman-pengalaman hidup, yang mempengaruhi perilaku taat
seseorang.
1.
Pola
asuh dalam keluarga
Ada
tipe pola asuh tertentu yang kondusif bagi perkembangan diri anak dalam hal
perilaku taat. Erik H. Erikson (pakar perkembangan manusia) menjelaskan bahwa
dalam perkembangannya seseorang harus melalui tahap-tahap perkembangan
psikososial (perkembangan yang melibatkan faktor-faktor psikologis dalam diri
seseorang dengan faktor-faktor sosial yang berasal dari luar diri seseorang).
Dimana tahap perkembangan psikososial yang sebelumnya sangat mempengaruhi tahap
perkembangan psikososial berikutnya. Perilaku taat (ketaatan) erat kaitannya
dengan pengajaran tentang kedisiplinan yang dilakukan oleh orang tua terhadap
anak pada masa kecilnya. Anak yang terbiasa disiplin akan lebih mudah untuk
taat pada aturan atau figur otoritas. Sebaliknya, anak yang sejak kecilnya
tidak dilatih disiplin akan sangat sulit menyesuaikan diri dalam situasi yang
penuh aturan atau diatur oleh seseorang. Pola asuh yang cenderung ‘ekstrim’
seperti otoriter (serba melarang) atau permisif (serba membolehkan) tentu saja juga
tidak mendukung perilaku taat anak yang wajar.
2.
Pendidikan
Seiring
dengan meningkatnya pendidikan seseorang, logika dalam berpikir tentunya juga berkembang.
Secara rasional ia akan cukup mampu memilah dan memilih untuk menentukan sikap
yang terbaik dalam menghadapi aturan atau figur otoritas, serta tidak langsung
berperilaku negatif (tidak taat atau membangkang).
3.
Lingkungan
sosial
Siapa
teman terdekat seseorang? Ada pepatah yang menyatakan: jika ingin mengetahui
bagaimana seseorang, ketahuilah siapa teman dekatnya. Alkitab juga jelas
menyatakan bahwa teman sangat mempengaruhi kita; “pergaulan yang buruk merusak
kebiasaan yang baik”.
4.
Pengalaman
hidup
Apa saja
peristiwa-peristiwa penting yang dialami seseorang. Bagian mana yang membuat
dia terluka? Bisa jadi pengalaman buruk di masa lalu yang tidak diselesaikan dengan
baik membuat seseorang melakukan mekanisme pertahanan diri (defens mechanism) dengan berperilaku
negatif atau agresif, dalam hal ini membangkang atau tidak taat.
5.
Kepribadian
Setiap
orang (manusia) memiliki kecenderungan kepribadiannya masing-masing; kecenderungan
kepribadian ini membuat masing-masing orang juga bereaksi secara khas terhadap
apapun termasuk dalam hal ketaatan. Ada kecenderungan kepribadian seseorang
yang disebut “antisocial tendency”
dengan ciri-ciri: sukar diatur, sulit mematuhi
ketentuan (aturan)
yang berlaku, menentang figur otoriter (misalnya
pimpinan), cenderung melakukan perbuatan menyimpang (tidak sesuai
dengan norma sosial pada umumnya).
6.
Sosial-ekonomi
Tingkat sosial-ekonomi cenderung
mempengaruhi seseorang mudah atau tidak mudah untuk taat. Tingkat
sosial-ekonomi yang tinggi mengindikasikan kemampuan atau kekuatan, yang
membuatnya cenderung tidak mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain. Hal inilah
yang mempengaruhi ketaatannya pada figur otoritas atau aturan.
Kesimpulan:
Terdapat faktor
eksternal (yang berasal dari luar diri) serta faktor internal (yang berasal
dari dalam diri) mempengaruhi perilaku taat (ketaatan) seseorang. Orang tua
memiliki peranan yang besar dalam mempersiapkan anaknya menjadi pribadi yang
memiliki perilaku taat yang adekuat (sesuai dan wajar), bukan pribadi yang
tidak punya prinsip atau mudah dipengaruhi oleh lingkungannya apalagi yang
antisosial. Di sisi lain, kecenderungan kepribadian masing-masing orang membuatnya
bereaksi secara khas terhadap apapun termasuk dalam hal taat atau tidak taat
terhadap aturan atau figur otoritas. Perilaku taat yang adekuat (taat terhadap
figur atau aturan yang memang patut kita taati) merupakan pilihan. Seperti
pengajaran Tuhan Yesus pada waktu ditanyai mengenai apa yang patut diberikan
kepada Kaisar. Dengan bijaksana Tuhan Yesus mengajarkan bahwa: “berikanlah
kepada Kaisar apa yang patut diberikan kepadanya”. Aplikasinya adalah: kita semestinya
berlaku taat kepada ‘apa yang patut kita taati’. Tanda kutip disini menyatakan
bahwa kita patut menggunakan akal sehat (pertimbangan logis) dalam melakukan
ketaatan kita, karena kita dianugerahi oleh Tuhan pikiran, perasaan, dan
kemauan. Di atas semuanya itu kita memerlukan hikmat dari Tuhan dalam melakukan
segala sesuatu, karena tuntunan dariNya tidak akan salah dalam hal kepada siapa
kita harus taat di dunia ini.
Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA Edisi Oktober 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar