Selasa, 14 Januari 2014

DAMAI: SIKAP TENANG DAN PERCAYA

“Bilaku cari damai, hanya ku dapat dalam Yesus. Bila ku cari ketenangan hanya kutemui di dalam Yesus. Tak satupun dapat menghiburku. Tak seorangpun dapat menolongku. Hanya Yesus jawaban hidupku. Bersama Dia hatiku damai, walau dalam lembah kekelaman. Bersama Dia hatiku tenang walau hidup penuh tantangan. Tak satupun dapat menghiburku. Tak seorangpun dapat menolongku. Hanya Yesus jawaban hidupku.”

Kebanyakan di antara kita kemungkinan sangat hafal dengan syair lagu di atas. Syair yang sangat menjanjikan dan menguatkan umatNya. Pertanyaan besarnya adalah apakah kita benar-benar mengamini kata-kata yang ada di lagu tersebut? Ataukah lagu ini justru kita nyanyikan tanpa penghayatan alias datar-datar saja karena berpikir bahwa memang seperti itulah seharusnya? Selanjutnya, pada situasi atau kondisi seperti apakah kita bisa merasa damai?
Damai adalah kata lain dari tenang atau tentram. Secara umum orang mengidentikkan kata damai adalah dengan sesuatu atau kondisi kedamaian (aman, tentram, tenang, nyaman, dst.). Ketika semua berjalan seperti yang kita harapkan, dapat dijamin bahwa kita sangat mudah untuk merasa tenang, sebaliknya ketika keadaan tidak sesuai atau bahkan di luar prediksi kita, akan sangat sulit bisa menjadi tenang.
Bisa juga orang mengidentikkan kata damai dengan karakteristik temperamen seseorang. Misalnya: seseorang yang Introvert (memiliki temperamen Phlegmatis atau Melankolis) adalah pendamai dan tidak suka perbantahan, berbanding terbalik dengan Ekstrovert (temperamen Kolerik atau Sanguin) yang suka berdiskusi atau mendebat sesuatu hal yang mengganggu. Apakah demikian adanya? Jika demikian, alangkah terpuruknya orang-orang dengan temperamen Kolerik kalau diidentikkan dengan perilaku tidak suka damai, atau Sanguin yang dianggap terlalu banyak bicara jika ada sesuatu hal yang dirasa kurang pas.
Dalam Yesaya 30:15 jelas dikatakan “...dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Ini artinya ketenangan atau kedamaian tidak terkait langsung dengan karakteristik temperamen seseorang, melainkan bagaimana komitmen seseorang dengan Tuhan, apakah ia memilih bersikap “tenang” dan “percaya” pada Tuhan ketika menghadapi tantangan di hidupnya?
Sikap seseorang dalam menghadapi sesuatu hal sangat dipengaruhi oleh apa yang dia pikirkan tentang hal tersebut. Pikiran mempengaruhi perasaan dan sebaliknya. Karena itu, jika pikiran seseorang positif, secara otomatis perasaannya menjadi positif, akhirnya sikapnya pun positif. Sebaliknya jika pikirannya negatif maka umumnya perasaan cenderung menjadi negatif dan sikapnya pun akan negatif juga.
Sikap tenang dan percaya tersebut tidak lain merupakan wujud nyata kehidupan orang-orang yang memiliki iman pasti kepada Tuhan yang ia sembah. Artinya orang tersebut percaya bahwa apapun yang terjadi padanya (baik-buruk, suka-senang, dll), tidak pernah terlepas dari rencana dan campur tangan Allah dalam hidupnya (Roma 8:28), itulah sebabnya ia memilih bersikap tenang. Hanya sikap tenanglah yang memungkinkan seseorang mampu berpikir jernih dan terkendali dalam menghadapi situasi genting sekalipun.
Sikap seseorang adalah sesuatu yang sangat mungkin untuk dilatih (baca: diubah). Sebagai orang percaya, hal ini sangat tergantung pada bagaimana kita mempersilahkan Tuhan melalui Roh KudusNya menguasai diri kita, dalam hal ini pikiran dan perasaan kita sepenuhnya.
Berkaitan dengan tema Natal Nasional Tahun 2013 ini, yaitu: “Datanglah, ya Raja Damai” (bdk. Yesaya 9:5), sungguh mengingatkan kita lagi bahwa Ia adalah sumber damai yang sejati. Maukah kita berkomitmen untuk memilih bersikap “tenang” dan “percaya” dalam menjalani kehidupan? Jika jawaban kita ya, berarti kita benar-benar akan bisa menjadi duta pendamai, yang lebih memilih bersikap tenang dan percaya, sehingga mampu menghadapi dengan bijaksana apapun situasi kehidupan masa kini yang tidak semakin mudah.

SELAMAT MERAYAKAN NATAL TAHUN 2013 DAN MENYAMBUT TAHUN BARU 2014, TUHAN YESUS MEMBERKATI.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA edisi Desember 2013. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar