“Bilaku cari damai, hanya ku dapat
dalam Yesus. Bila ku cari ketenangan hanya kutemui di dalam Yesus. Tak satupun
dapat menghiburku. Tak seorangpun dapat menolongku. Hanya Yesus jawaban
hidupku. Bersama Dia hatiku damai, walau dalam lembah kekelaman. Bersama Dia
hatiku tenang walau hidup penuh tantangan. Tak satupun dapat menghiburku. Tak seorangpun
dapat menolongku. Hanya Yesus jawaban hidupku.”
Kebanyakan
di antara kita kemungkinan sangat hafal dengan syair lagu di atas. Syair yang sangat
menjanjikan dan menguatkan umatNya. Pertanyaan besarnya adalah apakah kita
benar-benar mengamini kata-kata yang ada di lagu tersebut? Ataukah lagu ini
justru kita nyanyikan tanpa penghayatan alias datar-datar saja karena berpikir
bahwa memang seperti itulah seharusnya? Selanjutnya, pada situasi atau kondisi
seperti apakah kita bisa merasa damai?
Damai
adalah kata lain dari tenang atau tentram. Secara umum orang mengidentikkan kata
damai adalah dengan sesuatu atau kondisi kedamaian (aman, tentram, tenang,
nyaman, dst.). Ketika semua berjalan seperti yang kita harapkan, dapat dijamin
bahwa kita sangat mudah untuk merasa tenang, sebaliknya ketika keadaan tidak
sesuai atau bahkan di luar prediksi kita, akan sangat sulit bisa menjadi tenang.
Bisa
juga orang mengidentikkan kata damai dengan karakteristik temperamen seseorang.
Misalnya: seseorang yang Introvert (memiliki temperamen Phlegmatis atau Melankolis)
adalah pendamai dan tidak suka perbantahan, berbanding terbalik dengan Ekstrovert
(temperamen Kolerik atau Sanguin) yang suka berdiskusi atau mendebat sesuatu
hal yang mengganggu. Apakah demikian adanya? Jika demikian, alangkah terpuruknya
orang-orang dengan temperamen Kolerik kalau diidentikkan dengan perilaku tidak
suka damai, atau Sanguin yang dianggap terlalu banyak bicara jika ada sesuatu
hal yang dirasa kurang pas.
Dalam
Yesaya 30:15 jelas dikatakan “...dalam tinggal tenang dan percaya
terletak kekuatanmu.” Ini artinya ketenangan atau kedamaian tidak terkait
langsung dengan karakteristik temperamen seseorang, melainkan bagaimana
komitmen seseorang dengan Tuhan, apakah ia memilih bersikap “tenang” dan
“percaya” pada Tuhan ketika menghadapi tantangan di hidupnya?
Sikap
seseorang dalam menghadapi sesuatu hal sangat dipengaruhi oleh apa yang dia
pikirkan tentang hal tersebut. Pikiran mempengaruhi perasaan dan sebaliknya.
Karena itu, jika pikiran seseorang positif, secara otomatis perasaannya menjadi
positif, akhirnya sikapnya pun positif. Sebaliknya jika pikirannya negatif maka
umumnya perasaan cenderung menjadi negatif dan sikapnya pun akan negatif juga.
Sikap
tenang dan percaya tersebut tidak lain merupakan wujud nyata kehidupan
orang-orang yang memiliki iman pasti kepada Tuhan yang ia sembah. Artinya orang
tersebut percaya bahwa apapun yang terjadi padanya (baik-buruk, suka-senang,
dll), tidak pernah terlepas dari rencana dan campur tangan Allah dalam hidupnya
(Roma 8:28), itulah sebabnya ia memilih bersikap tenang. Hanya sikap tenanglah
yang memungkinkan seseorang mampu berpikir jernih dan terkendali dalam
menghadapi situasi genting sekalipun.
Sikap
seseorang adalah sesuatu yang sangat mungkin untuk dilatih (baca: diubah).
Sebagai orang percaya, hal ini sangat tergantung pada bagaimana kita
mempersilahkan Tuhan melalui Roh KudusNya menguasai diri kita, dalam hal ini pikiran
dan perasaan kita sepenuhnya.
Berkaitan
dengan tema Natal Nasional Tahun 2013 ini, yaitu: “Datanglah, ya Raja Damai” (bdk.
Yesaya 9:5), sungguh mengingatkan kita lagi bahwa Ia adalah sumber damai yang
sejati. Maukah kita berkomitmen untuk memilih bersikap “tenang” dan “percaya”
dalam menjalani kehidupan? Jika jawaban kita ya, berarti kita benar-benar akan
bisa menjadi duta pendamai, yang lebih memilih bersikap tenang dan percaya,
sehingga mampu menghadapi dengan bijaksana apapun situasi kehidupan masa kini
yang tidak semakin mudah.
SELAMAT
MERAYAKAN NATAL TAHUN 2013 DAN MENYAMBUT TAHUN BARU 2014, TUHAN YESUS MEMBERKATI.
Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA edisi Desember 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar