Selasa, 14 Januari 2014

LIFE MUST GO ON
“Your past is not your destiny. Something good is waiting for you in your future”
(Joice Meyer)

Pada era 90-an ada sebuah lagu rohani yang cukup hits dan menyentuh hati. Lagu itu judulnya “Kusadari”, dinyanyikan oleh Sari Simorangkir (Grup Band VOG: Voice of Generation) yang menceritakan kadang harapan tidak sesuai kenyataan, timbullah rasa kecewa dan putus asa yang membayangi. Ingin lari dari kenyataan namun tidak mampu. Hingga di batas akhir kekuatan, datanglah Tuhan dengan kasihNya yang menyentuh hati dan membangkitkan semangat hidup sehingga akhirnya mampu melangkah meninggalkan masa lalu.

Apa yang digambarkan dalam syair lagu Kusadari tersebut sangat mirip dengan kehidupan yang kita jalani. Memiliki idealisme atau target atau cita-cita, sangat berharap untuk mendapatkan atau berjuang untuk menggapainya, namun ketika tidak tercapai muncullah rasa down atau terpuruk karena merasa gagal atau tidak mampu.

Reaksi seseorang dalam menghadapi kegagalan sangat individual sifatnya dan secara psikologis banyak faktor yang mempengaruhinya. Latar belakang atau pengalaman sebelumnya adalah yang paling utama, dan setidaknya ada dua kecenderungan reaksi umum dalam menghadapi kegagalan. Pertama, bagi orang-orang yang perfeksionis, ketika menghadapi kegagalan ia akan cenderung merasa sangat malu bahkan terancam harga dirinya karena takut mendapat ejekan, celaan, dll. Kedua, adalah sebaliknya bagi orang-orang yang bertipe cuek (santai) ia akan merasa tidak peduli terhadap reaksi-reaksi yang akan diterimanya dan tetap merasa baik-baik saja.

Apakah bisa dikatakan orang yang bertipe cuek lebih baik daripada si perfeksionis? Jawabannya adalah belum tentu. Sisi positif si perfeksionis adalah mereka orang yang sebenarnya penuh perhitungan jika merencanakan sesuatu. Jadi ketika gagal, walaupun merasa terpuruk tapi umumnya akan banyak melakukan introspeksi untuk melihat pada bagian mana yang salah. Dan jika ia memanfaatkan momen ini maka ia akan bangkit lagi dan mencoba lagi dengan memperbaiki yang salah sebelumnya. Sebaliknya orang cuek, sisi positifnya adalah tidak mudah stres dengan kegagalan, namun negatifnya adalah kegagalan yang dialami cenderung tidak dijadikan bahan introspeksi karena menganggap kegagalan adalah hal yang biasa, sehingga tidak tertarik mencoba atau berjuang lagi.

Apa yang bisa kita lakukan jika harapan tidak sesuai kenyataan? Jika awalnya kita merasa kecewa, putus asa, bahkan berpikir tidak berjuang lagi, itu lumrah sebagai reaksi awal. Namun jika reaksi itu berlangsung lama atau bahkan terulang terus-menerus jika mengalami hal yang sama, maka waspadalah kita dengan diri sendiri, karena dalam keadaan down, emosi pun menjadi negatif. Pada masa ini seseorang rawan merasa diri tidak berharga. Perasaan tidak berharga dan tidak bisa apa-apa jika berlangsung lama merupakan salah satu ciri depresi sedang melanda, dan bila dibiarkan bisa berlanjut ke perilaku negatif lain yang lebih tidak terkendali.

Apa yang bisa kita lakukan jika mengalami kegagalan? Berpikir dan berperilakulah positif.
Berpikir positif adalah berpikir bahwa tidak ada satupun dalam kehidupan kita yang lepas dari campur tangan Tuhan. Berperilaku positif adalah sesegera mungkin berusaha kembali melakukan aktivitas seperti biasanya (aktivitas normal). Berusaha segera beraktivitas seperti biasanya dapat membantu membuat perasaan mampu (perasaan positif) mulai tumbuh kembali.

Tahun 2013 akan segera berlalu. Seberapa banyak kah harapan yang sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan? Kutipan di awal tulisan mengingatkan kita pada Amsal 23:18: “Karena masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang”. Tidak ada alasan untuk tetap terpaku pada masa lalu yang sama sekali sudah tidak bisa kita ubah lagi. Seseorang yang tetap memiliki harapan walaupun pernah gagal adalah pribadi yang positif dan memiliki masa depan, karena ia percaya bahwa Allah itu ada dan berkuasa atas masa depannya.


HAPPY NEW YEAR 2014!

Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA Edisi Januari 2014.

DAMAI: SIKAP TENANG DAN PERCAYA

“Bilaku cari damai, hanya ku dapat dalam Yesus. Bila ku cari ketenangan hanya kutemui di dalam Yesus. Tak satupun dapat menghiburku. Tak seorangpun dapat menolongku. Hanya Yesus jawaban hidupku. Bersama Dia hatiku damai, walau dalam lembah kekelaman. Bersama Dia hatiku tenang walau hidup penuh tantangan. Tak satupun dapat menghiburku. Tak seorangpun dapat menolongku. Hanya Yesus jawaban hidupku.”

Kebanyakan di antara kita kemungkinan sangat hafal dengan syair lagu di atas. Syair yang sangat menjanjikan dan menguatkan umatNya. Pertanyaan besarnya adalah apakah kita benar-benar mengamini kata-kata yang ada di lagu tersebut? Ataukah lagu ini justru kita nyanyikan tanpa penghayatan alias datar-datar saja karena berpikir bahwa memang seperti itulah seharusnya? Selanjutnya, pada situasi atau kondisi seperti apakah kita bisa merasa damai?
Damai adalah kata lain dari tenang atau tentram. Secara umum orang mengidentikkan kata damai adalah dengan sesuatu atau kondisi kedamaian (aman, tentram, tenang, nyaman, dst.). Ketika semua berjalan seperti yang kita harapkan, dapat dijamin bahwa kita sangat mudah untuk merasa tenang, sebaliknya ketika keadaan tidak sesuai atau bahkan di luar prediksi kita, akan sangat sulit bisa menjadi tenang.
Bisa juga orang mengidentikkan kata damai dengan karakteristik temperamen seseorang. Misalnya: seseorang yang Introvert (memiliki temperamen Phlegmatis atau Melankolis) adalah pendamai dan tidak suka perbantahan, berbanding terbalik dengan Ekstrovert (temperamen Kolerik atau Sanguin) yang suka berdiskusi atau mendebat sesuatu hal yang mengganggu. Apakah demikian adanya? Jika demikian, alangkah terpuruknya orang-orang dengan temperamen Kolerik kalau diidentikkan dengan perilaku tidak suka damai, atau Sanguin yang dianggap terlalu banyak bicara jika ada sesuatu hal yang dirasa kurang pas.
Dalam Yesaya 30:15 jelas dikatakan “...dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Ini artinya ketenangan atau kedamaian tidak terkait langsung dengan karakteristik temperamen seseorang, melainkan bagaimana komitmen seseorang dengan Tuhan, apakah ia memilih bersikap “tenang” dan “percaya” pada Tuhan ketika menghadapi tantangan di hidupnya?
Sikap seseorang dalam menghadapi sesuatu hal sangat dipengaruhi oleh apa yang dia pikirkan tentang hal tersebut. Pikiran mempengaruhi perasaan dan sebaliknya. Karena itu, jika pikiran seseorang positif, secara otomatis perasaannya menjadi positif, akhirnya sikapnya pun positif. Sebaliknya jika pikirannya negatif maka umumnya perasaan cenderung menjadi negatif dan sikapnya pun akan negatif juga.
Sikap tenang dan percaya tersebut tidak lain merupakan wujud nyata kehidupan orang-orang yang memiliki iman pasti kepada Tuhan yang ia sembah. Artinya orang tersebut percaya bahwa apapun yang terjadi padanya (baik-buruk, suka-senang, dll), tidak pernah terlepas dari rencana dan campur tangan Allah dalam hidupnya (Roma 8:28), itulah sebabnya ia memilih bersikap tenang. Hanya sikap tenanglah yang memungkinkan seseorang mampu berpikir jernih dan terkendali dalam menghadapi situasi genting sekalipun.
Sikap seseorang adalah sesuatu yang sangat mungkin untuk dilatih (baca: diubah). Sebagai orang percaya, hal ini sangat tergantung pada bagaimana kita mempersilahkan Tuhan melalui Roh KudusNya menguasai diri kita, dalam hal ini pikiran dan perasaan kita sepenuhnya.
Berkaitan dengan tema Natal Nasional Tahun 2013 ini, yaitu: “Datanglah, ya Raja Damai” (bdk. Yesaya 9:5), sungguh mengingatkan kita lagi bahwa Ia adalah sumber damai yang sejati. Maukah kita berkomitmen untuk memilih bersikap “tenang” dan “percaya” dalam menjalani kehidupan? Jika jawaban kita ya, berarti kita benar-benar akan bisa menjadi duta pendamai, yang lebih memilih bersikap tenang dan percaya, sehingga mampu menghadapi dengan bijaksana apapun situasi kehidupan masa kini yang tidak semakin mudah.

SELAMAT MERAYAKAN NATAL TAHUN 2013 DAN MENYAMBUT TAHUN BARU 2014, TUHAN YESUS MEMBERKATI.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA edisi Desember 2013. 

TUJUAN ATAU KEINGINAN?

 “Bila ambisi mantap seseorang adalah mengikuti rencana Tuhan baginya, maka ia memiliki Bintang Utara yang senantiasa terlihat untuk menuntunnya melewati lautan apapun, betapapun tak bertepinya itu tampaknya. Ia memiliki kompas yang menunjukkan arah yang benar dalam kabut yang paling tebal dan badai yang paling ganas sekalipun, serta tidak terganggu meski ada gunung batu magnetis.” (S.D. Gordon)

Jika Anda ditanya, apakah tujuanmu hidup di dunia? Masing-masing orang pasti punya jawabannya sendiri-sendiri; ada yang memang sudah yakin atau mantap, ada yang masih agak ragu-ragu, bahkan ada yang sama sekali masih bingung untuk apa sebenarnya dia hadir di dunia.
Menjawab pertanyaan di atas dapat di analogikan pula dengan pertanyaan berikut: “Jika Anda mau tau apa manfaat sebuah benda, kepada siapakah Anda akan menanyakannya?” Kepada penjualnya bisa saja, tapi penjualnya sendiri pasti mendapatkan informasinya dari sumber awal juga. Siapakah sumber awal itu? Tidak lain adalah orang yang membuat benda itu. Sama seperti manusia, jika ingin mengetahui apa tujuannya hidup di dunia, maka kepada Tuhan Allah yang menciptakannya ia harus bertanya. Karena manusia masing-masing ada keunikannya (kelebihan-kekurangan, dll), maka pastilah Tuhan juga menciptakan masing-masing dengan tujuannya yang spesifik; walaupun tujuan umum hidup kita adalah sama yakni memuliakan Tuhan, namun memuliakan Tuhan melalui keunikan masing-masing itulah yang membuat kita tidak bisa menyamakan tujuan spesifik satu dengan yang lainnya.
Dalam kitab Amsal dengan jelas di katakan: tanpa wahyu (visi), menjadi liarlah rakyat (Amsal 129:18). Visi atau tujuan hidup membuat seseorang bisa fokus dan tidak terpengaruh apapun godaan yang ada di sekelilingnya. Sebaliknya, tanpa memiliki visi atau tujuan hidup, sesatlah kehidupan seseorang, karena ia bagaikan berjalan dalam kegelapan, tanpa penerang dan petunjuk, tidak tahu arah mau kemana. Orang yang tanpa tujuan hidup tidak mampu membedakan apakah sesuatu itu penting atau tidak penting, apa yang menjadi keinginannya itu sajalah yang dilakukannya.
Berkaitan dengan tujuan hidup, yang paling menjadi sorotan adalah kaum muda, karena kehidupannya yang tampak “enjoy aja”, apa yang diinginkan itu yang dilakukan, tanpa ada pertimbangan kritis dan seolah-olah hidup hanya saat ini saja. Jika kita memperhatikan dari karakteristik orang muda berdasarkan fase perkembangannya, kita bisa memaklumi bahwa pada usia ini (antara 12 – 18 Tahun) merupakan masa mencari jati diri; ingin bebas, ingin berkuasa dan bisa menentukan dirinya sendiri. Terutama pada usia remaja pertengahan (15 – 16 Tahun) merupakan masa dimana rasa ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru sangat menonjol. Ini karena pada dasarnya mereka menyukai sensasi; selalu ingin sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Akibatnya mereka menjadi kurang bisa fokus terhadap apapun yang sedang dilakukan atau dikerjakannya. Karena itu wajarlah bila mereka belum mantap prinsip hidupnya.
Disinilah peranan orang tua dan orang lain (guru atau pembina rohani) menolong anak muda agar memiliki visi hidup yang benar. Karena visi atau tujuan hidup dipengaruhi oleh apa yang dinilai merupakan hal yang paling berharga dalam hidup seseorang. Jika yang paling berharga adalah Tuhan, maka fokus atau tujuan atau visi hidupnya mengarah kepada penciptaNya; kepada semua hal yang menyenangkan dan memuliakanNya.
Kesimpulan: Jika hidup seorang muda sudah men-Tuhan-kan Kristus dalam hidupnya, maka godaan-godaan populer di dunia tidak akan mengggoyahkan tujuan hidupnya yang adalah memuliakan Tuhan melalui hal-hal spesifik yang Tuhan berikan padanya (talenta-bakat-kemampuan).

Saran: Visi hidup memuliakan Tuhan bisa ditanamkan sejak dini. Peran orang tua dan pembina rohani adalah menanamkan hal tersebut pada anak sedini mungkin. Agar fokus hidupnya adalah Tuhan bukan hal-hal “duniawi” lainnya.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA edisi November 2013.

Ketaatan: Sebuah Pilihan

Ketaatan dengan akar kata taat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai senantiasa tunduk (misalnya kepada Tuhan, pemerintah,dsb); patuh: misalnya seorang istri terhadap suami, anak terhadap orang tua; tidak berlaku curang; setia; saleh; kuat beribadah: misalnya seseorang yang rajin ke gereja atau membaca Alkitab.

Ketaatan yang identik dengan kepatuhan, di masa kini nampaknya semakin menjadi hal yang langka dan mahal. Karyawan yang melanggar aturan di kantornya, anak yang memberontak atau melawan pada orang tua, mahasiswa yang melakukan demo menentang rektornya, bahkan dalam lingkungan rohani (gereja), bukanlah hal yang mengejutkan kala kita mendengar atau menyaksikan sendiri ada majelis atau jemaat yang “semaunya” pada pendetanya dengan alasan-alasan tertentu yang masuk akal maupun yang tidak masuk akal.

Pertanyaan besarnya: mengapa manusia bisa taat atau tidak taat? Jawaban sederhana dan praktis adalah, karena manusia punya pikiran, perasaan dan kehendak; ia bebas membuat atau menentukan pilihan dalam hidupnya. Alasan tersebut mempengaruhinya untuk memutuskan taat atau tidak terhadap aturan atau figur otoritas (pemimpin atau penguasa).

Secara umum latar belakang kehidupan seseorang sangat mempengaruhi perilakunya, termasuk juga dalam hal ini perilaku taat (ketaatan). Berbicara mengenai latar belakang seseorang, tentu sangat luas sekali, namun pada bagian ini akan dijelaskan mengenai latar belakang keluarga (dalam hal ini pola asuh), pendidikan, lingkungan sosial (teman), serta pengalaman-pengalaman hidup, yang mempengaruhi perilaku taat seseorang.
1.    Pola asuh dalam keluarga
Ada tipe pola asuh tertentu yang kondusif bagi perkembangan diri anak dalam hal perilaku taat. Erik H. Erikson (pakar perkembangan manusia) menjelaskan bahwa dalam perkembangannya seseorang harus melalui tahap-tahap perkembangan psikososial (perkembangan yang melibatkan faktor-faktor psikologis dalam diri seseorang dengan faktor-faktor sosial yang berasal dari luar diri seseorang). Dimana tahap perkembangan psikososial yang sebelumnya sangat mempengaruhi tahap perkembangan psikososial berikutnya. Perilaku taat (ketaatan) erat kaitannya dengan pengajaran tentang kedisiplinan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak pada masa kecilnya. Anak yang terbiasa disiplin akan lebih mudah untuk taat pada aturan atau figur otoritas. Sebaliknya, anak yang sejak kecilnya tidak dilatih disiplin akan sangat sulit menyesuaikan diri dalam situasi yang penuh aturan atau diatur oleh seseorang. Pola asuh yang cenderung ‘ekstrim’ seperti otoriter (serba melarang) atau permisif (serba membolehkan) tentu saja juga tidak mendukung perilaku taat anak yang wajar.
2.    Pendidikan
Seiring dengan meningkatnya pendidikan seseorang, logika dalam berpikir tentunya juga berkembang. Secara rasional ia akan cukup mampu memilah dan memilih untuk menentukan sikap yang terbaik dalam menghadapi aturan atau figur otoritas, serta tidak langsung berperilaku negatif (tidak taat atau membangkang).
3.    Lingkungan sosial
Siapa teman terdekat seseorang? Ada pepatah yang menyatakan: jika ingin mengetahui bagaimana seseorang, ketahuilah siapa teman dekatnya. Alkitab juga jelas menyatakan bahwa teman sangat mempengaruhi kita; “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik”.
4.    Pengalaman hidup
Apa saja peristiwa-peristiwa penting yang dialami seseorang. Bagian mana yang membuat dia terluka? Bisa jadi pengalaman buruk di masa lalu yang tidak diselesaikan dengan baik membuat seseorang melakukan mekanisme pertahanan diri (defens mechanism) dengan berperilaku negatif atau agresif, dalam hal ini membangkang atau tidak taat. 
5.    Kepribadian
Setiap orang (manusia) memiliki kecenderungan kepribadiannya masing-masing; kecenderungan kepribadian ini membuat masing-masing orang juga bereaksi secara khas terhadap apapun termasuk dalam hal ketaatan. Ada kecenderungan kepribadian seseorang yang disebut “antisocial tendency” dengan ciri-ciri: sukar diatur, sulit mematuhi ketentuan (aturan) yang berlaku, menentang figur otoriter (misalnya pimpinan), cenderung melakukan perbuatan menyimpang (tidak sesuai dengan norma sosial pada umumnya).
6.    Sosial-ekonomi
Tingkat sosial-ekonomi cenderung mempengaruhi seseorang mudah atau tidak mudah untuk taat. Tingkat sosial-ekonomi yang tinggi mengindikasikan kemampuan atau kekuatan, yang membuatnya cenderung tidak mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain. Hal inilah yang mempengaruhi ketaatannya pada figur otoritas atau aturan.

Kesimpulan:

Terdapat faktor eksternal (yang berasal dari luar diri) serta faktor internal (yang berasal dari dalam diri) mempengaruhi perilaku taat (ketaatan) seseorang. Orang tua memiliki peranan yang besar dalam mempersiapkan anaknya menjadi pribadi yang memiliki perilaku taat yang adekuat (sesuai dan wajar), bukan pribadi yang tidak punya prinsip atau mudah dipengaruhi oleh lingkungannya apalagi yang antisosial. Di sisi lain, kecenderungan kepribadian masing-masing orang membuatnya bereaksi secara khas terhadap apapun termasuk dalam hal taat atau tidak taat terhadap aturan atau figur otoritas. Perilaku taat yang adekuat (taat terhadap figur atau aturan yang memang patut kita taati) merupakan pilihan. Seperti pengajaran Tuhan Yesus pada waktu ditanyai mengenai apa yang patut diberikan kepada Kaisar. Dengan bijaksana Tuhan Yesus mengajarkan bahwa: “berikanlah kepada Kaisar apa yang patut diberikan kepadanya”. Aplikasinya adalah: kita semestinya berlaku taat kepada ‘apa yang patut kita taati’. Tanda kutip disini menyatakan bahwa kita patut menggunakan akal sehat (pertimbangan logis) dalam melakukan ketaatan kita, karena kita dianugerahi oleh Tuhan pikiran, perasaan, dan kemauan. Di atas semuanya itu kita memerlukan hikmat dari Tuhan dalam melakukan segala sesuatu, karena tuntunan dariNya tidak akan salah dalam hal kepada siapa kita harus taat di dunia ini.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Majalah TAHETA Edisi Oktober 2013.