Selasa, 30 April 2013

Dalam Kelemahan Manusialah Kuasa Tuhan Sempurna


Part 1
Sudah lama aku pengen nulis lagi di note, tapi belum ada ide cemerlang dan menggelitik hati yang sekiranya layak untuk ku-posting-kan (lebay.com, padahal karena males berat hihi...). Hingga hari ini aku bertemu dengan seseorang istimewa (tentu saja secara tidak sengaja) yang membuatku terinspirasi untuk berbagi lagi melalui tulisan.

Aku mulai dari beberapa waktu yang lalu deh... Dengan alasan atau niat membantu dan mempercepat urusan seseorang teman (urusan yang masih terkait kuliah lalu; karena kalau urusan dia beres maka 19 orang lain termasuk aku akan “terselamatkan” hihi...), hari ini aku bertemu dengan teman lain yang juga kuperlukan pertolongannya dalam urusan ini.
Singkat cerita, mulai dari perjalanan yang cukup panjang (tidak lain karena Jakarta yang bukan Jakarta kalau tidak macet), sampai tunggu-menunggu, hingga obrolan yang sangat jauh diluar jangkauan urusan alias ngalor-ngidul, tak terasa sudah sore banget (baca: jam sangat macet) di Jakarta. Akhirnya aku dan teman yang menemaniku dalam urusan ini, memutuskan untuk pulang malam aja sekalian yang kira-kira macetnya sedikit mendingan.

Perjalanan diawali dengan naik busway (yang sebenarnya bukan my favorite transportation in Jakarta, tapi karena tidak ada pilihan lain, “apbolbut=apabolehbuat”), lalu dilanjutkan dengan menyempatkan mampir di sebuah mall kecil untuk membeli sesuatu, kemudian naik angkot untuk sampai di tujuan akhir.
Ups...apa sih istimewanya cerita ini (naik angkot)?? Sabar..seperti yang kuceritakan di awal, di angkot yang gak ada istimewanya ini, ketika aku dan temanku asik ngobrol, tiba-tiba ada penumpang masuk. Lha ada apa dengan penumpang ini?? Ternyata ia bukan penumpang biasa, ia seorang tunanetra.

Awalnya kami sibuk dengan obrolan sendiri, ia pun sibuk dengan HP-nya yang aku tau memiliki fasilitas khusus untuknya. Akhirnya ada penumpang yakni seorang Bapak mengajak dia untuk mengobrol. Ia ditanya “mau turun dimana nanti?”, lalu dengan lancarnya ia menjawab dan menyebutkan suatu tempat, sekaligus menjelaskan karena kemalaman sudah tidak ada angkot lagi yang langsung ke tempat yang dimaksud, jadi harus pakai angkot ini dan dilanjutkan dengan pakai ojek. Dalam hatiku: wah hapal betul dia rute dan jadwal angkot. Tidak sampai disitu, bapak tadi (yang tampaknya sangat penasaran) bertanya lagi: “tadi habis dari mana?”, dengan senyum ia menjawab: “habis nengokin ‘calon’ saya”. Hmmm...dalam hatiku, Tuhan sungguh adil padanya, memberikan orang yang bersedia menerima dia apa adanya. Dia lalu balik bertanya dengan Bapak tadi: “Bapak dinas dimana?”. Wah..wah..wah..tau aja ya yang ngajak dia ngobrol seorang Bapak-Bapak yang baru pulang kerja. Si Bapak balik nanya: “kerja dimana?” dan dijawab “kebetulan saya seorang jurnalis pak..juga trainer”. Waduh..waduh..waduh.. jadi tambah penasaran saya untuk menyimak pembicaraan mereka.

Dengan lancarnya ia juga bercerita bahwa ia sudah terbiasa untuk bepergian seorang diri hingga ke luar negeri (ck..ck..ck..gue aja blom pernah sampe ke negara tetangga terdekat bo hehe...). Kemudian memberitahu bapak itu (dan kami) bahwa bisa membuka website tentang dirinya. Hu..hu..hu..kalah saya...saya aja belum punya blog. Saat sang Bapak memujinya “hebat ya...”, dia menjawab: “semua karena banyak latihan koq...” So humble...

Tak hanya sampai disitu, tak lama kemudian tiba-tiba ia mengatakan kepada sopir angkot: “ pak saya turun di... ya..”. Ow..ow..darimana ya dia tau kalau sudah hampir sampai. Dan saya di buat lebih terkaget-kaget lagi saat dia mengatakan “sebentar lagi saya turun” lalu langsung minta stop dan turun. OMG..sungguh Tuhan Maha Kuasa. 

Aku jadi teringat pada bacaanku beberapa hari lalu di buku PDL (purpose driven life); di bagian yang kubaca itu menekankan pada pengalaman rasul Paulus dimana sesuatu yang menjadi kelemahannya justru itulah yang dipakai Tuhan untuk menyatakan kuasaNya (kutipan bebasku=”dalam kelemahan Manusialah Kuasa Tuhan Sempurna”).

Part 2
Pagi ini aku coba membuka website milik pribadi istimewa tersebut, dan pada bagian awal tertulis “Ramaditya does what normal people don’t”. Tuhan sungguh luar biasa, memberikan banyak kelebihan kepada seseorang yang tampaknya punya ‘kekurangan’. Jadi teringat sekilas ucapannya di angkot tadi malam: “ yang error kan cuma matanya, yang lainnya kan normal semua”. Jadi pingin minjem keywords-nya Upin & Ipin: betul..betul..betul... Betul sekali bahwa, salah satu dari panca inderanya memang tidak berfungsi, namun masih banyak indera lain yang yang berfungsi “menggantikan dan melengkapi” yang tidak berfungsi tersebut. Jadi teringat juga ilustrasi tentang gelas yang berisi setengah bagian air; apakah itu dianggap setengah kosong atau setengah isi tergantung pada bagaimana cara pandang terhadap yang “setengah” itu, apakah akan disyukuri karena masih berisi setengah gelas atau disesali karena sudah kosong setengah gelasnya.

 “Tunanetra, Penulis, Wartawan, Blogger, Game Music Composer, Motivator” demikian tertulis di sampul buku yang berjudul: “Blind Power, Berdamai dengan Kegelapan”, yang tampaknya merupakan otobiografinya. Aku niatkan nanti akan mencari buku itu, penasaran bo bagaimana kisah hidupnya sampai ia akhirnya bisa berdamai dengan ‘kegelapan’ dan memaksimalkan kemampuan yang ia miliki, hingga bisa memiliki little words: “If you want to be loved, make yourself loveable”.

Dalam kelemahannya (‘kekurangan’/ketidakbisaanya) Tuhan memberikan banyak hal yang orang kebanyakan (‘orang normal’) belum tentu bisa lakukan. Misalnya saja, semua orang bisa menulis tapi apakah akan menjadi penulis? Belum tentu..contohnya saja saya, ngaku-ngaku punya minat menulis tapi tidak konsisten menulis (baca: males, hihi...) ya sama aja akan lambat perkembangan kemampuan menulisnya. Jadi wartawan? Banyak orang normal menjadi wartawan, tapi bagaimana dengan wartawan tunanetra, tentu tantangannya luarbiasa. Orang berpengelihatan baik saja bisa salah-salah mengetik, bagaimana dengan orang tunanetra? Tapi Rama justru mampu menggunakan laptop yang orang normal pakai dengan kemampuan 10 jari lagi (beda banget dengan akika yang punya kemampuan mengetik 11 jari hehehe...).

Kemampuan seringkali membuat seseorang egois dan merasa mampu tanpa campur tangan Tuhan, namun ketidakbisaan justru membuat seseorang berserah pada Tuhan sehingga nyata bahwa semua kemampuan hanyalah karena kuasaNya.

Aku teringat “Serenity Prayer” atau “Doa keheningan hati”  yang mengajarkan:
Tuhan berikanlah aku keheningan hati,
Untuk mengubah apa yang bisa aku ubah,
Menerima apa yang tidak bisa aku ubah,
Serta kebijaksanaan untuk membedakan keduanya,
Amin.

CATATAN: Tulisan ini dibuat pada 10 Maret 2011 pukul 8:33 PM.

"BEGITU DEKAT, TETAPI BEGITU JAUH"


Aku sangat terusik sekaligus tertarik dan kagum dengan ungkapan ironis yang menjadi judul salah satu bab di buku Finishing Well tulisan David W. F. Wong, salah satu penulis Kristen yang aku kagumi.

Judul ini nampaknya diambil untuk menggambarkan perjalanan kehidupan spiritual salah satu tokoh besar dalam Alkitab yakni Musa. Begitu dekat, menggambarkan bahwa perjalanan kehidupan Musa, yang notabene adalah salah satu manusia yang hidup dekat dengan Tuhan. Begitu jauh, menggambarkan akhir hidupnya tidaklah seindah atau seperti yang dibayangkan atau diharapkan sebagaimana “seharusnya” diterimanya. Ia tidak seperti kisah Cinderella yang “hidup bahagia selamanya” dengan pangerannya.

Kita semua suka akhir yang indah dari sebuah cerita, demikian Wong menulis. Selanjutnya, berakhir dengan baik tidak selalu akhir yang indah (menurutku, kata indah disini berarti “sesuai dengan yang diharapkan”). Musa meninggal di luar Tanah Perjanjian, ia tidak pernah menjejakkan kaki ke sana.

Mengikuti perjalanan kehidupan Musa, ia memang “jatuh bangun” dalam kehidupan kerohaniannya. Dimulai dari perdebatannya yang cukup “alot” ketika Tuhan memanggilnya. Wong menulis, Allah telah memanggil Musa untuk melakukan karya dalam hidupnya. Membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Membawa mereka melintasi gurun menuju Tanah Perjanjian. Selama 40 tahun dengan setia menjalankan misinya. Ia dengan setia bertahan dalam perjalanannya. Ia tahan dalam menghadapi ketegaran hati Firaun. Ia tahan dalam menghadapi hati yang tak bersyukur dari bangsa Israel. Kemudian, saat ia hampir dekat dengan Tanah Perjanjian, ia diberitahu: engkau tidak boleh masuk. Di sinilah engkau harus berhenti. Orang-orang akan masuk, tetapi engkau tetap berada di luar. Engkau akan menyisih; Yosua penerusmu akan memimpin mereka masuk Tanah Perjanjian.

Wong menggambarkan bahwa Musa telah melakukan segala sesuatu yang bisa ia lakukan selama 40 tahun terakhir karena ikrar yang dibuat oleh Allah...Allah telah berjanji, dan Musa telah menyimpan janji itu di dalam hatinya. Ia telah melihat janji itu digenapi selangkah demi selangkah. Ia telah melihat keajaiban yang diadakan Allah di Mesir untuk mengeluarkan bangsa itu. Ia telah melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan Allah di padang gurun yang dialami bangsa itu. Musa tidak pernah melupakan janji itu. Ia kini berdiri di tepi tanah yang dijanjikan itu (Karena itulah disebut tanah perjanjian). Ia memulai sebuah perjalanan, dan perjalanan itu akan berakhir. Ia hampir mencapai tujuannya. Hanya beberapa langkah lagi, dan ia akan mewujudkan sesuatu yang diimpikannya sepanjang hidupnya.

Namun Allah memiliki rencana lain, Musa akan memimpin bangsanya, tetapi hanya sampai ke Tanah Perjanjian dan tidak memasukinya. Saat membaca bagian ini aku membayangkan bagaimana perasaan Musa saat itu. Kecewakah ia? Ya, Musa juga manusia yang pasti bisa kecewa. Setelah semua yang ia jalani dengan susah payah, dengan bercucuran keringat, airmata, dan perasaan serta pengorbanan lainnya, Tuhan mengatakan padanya: “engkau tidak boleh masuk Tanah Perjanjian”.

Hal itu mirip dengan yang terjadi dalam kehidupan kita, yang mungkin pernah kita alami. Kita mengharapkan sesuatu, kita sudah hampir memilikinya. Namun, ketika hal itu tampaknya sudah bisa kita raih, kita tak bisa mendapatkannya.

Teringat pada tim Garuda Muda di Sea Games lalu. Saat final melawan Malaysia, mereka berjuang luar biasa hingga bisa mencapai skor imbang. Kemenangan tinggal selangkah lagi melalui adu penalti. Harapan dan keyakinan begitu besar dan semuanya sudah di depan mata. Namun, ada “hal-hal yang tidak dimengerti terjadi” yang menurut kebanyakan orang “faktor keberuntungan” atau “Dewi Fortuna” (aku lebih suka mengatakannya: “Perkenanan Tuhan”) sedang tidak berpihak kepada tim Garuda Muda. Mereka kalah dengan skor tipis. Ah, betapa aku turut merasakan kekecewaan mereka. Melihat ekspresi kekecewaan Titus Bonai dan Patrick Wanggai (yang dua-duanya sekarang masuk list pesepakbola favoritku :-) ) aku ikut menitikkan air mata...hiks...hiks...betapa kecewanya, tinggal sedikit lagi, apa yang diimpi-impikan terlepas begitu saja....

Tanah perjanjian apa yang kita tidak boleh masuki? Mimpi apa yang tidak bisa kita penuhi? Tujuan apa yang nampaknya selalu melampaui jangkauan kita? Hasrat apa yang ditolak Allah? Demikian pertanyaan yang diajukan Wong.

“Hampir sampai di tempat tujuan dan tidak diperbolehkan masuk”, mengapa demikian? Bila mengingat kejadian di Meriba kita dapat memahami bahwa Musa berdosa terhadap Tuhan dan kehilangan hak istimewa untuk memasuki Tanah Perjanjian. “...sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel...dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di tengah-tengah orang Israel.” Wong menyimpulkan, dalam peristiwa Meriba itu dosa Musa adalah: ketidaktaatan-ketidakpercayaan-tidak hormat kepada Tuhan. 

Apakah maksud Tuhan tidak memperbolehkan Musa masuk Tanah Perjanjian? Wong menjelaskan bahwa Allah merencanakan tujuan yang lebih besar dan lebih luas. Musa harus menyingkir agar Yosua penggantinya bisa bangkit sehingga mendapatkan posisi yang menonjol di mata bangsanya. Demi Yosua, Allah menghalangi Musa untuk masuk Tanah Perjanjian. Allah juga melakukan itu demi Musa. Ia telah menghadapi bagian tantangannya di padang gurun, tetapi tantangan di Tanah Perjanjian akan berbeda. Diperlukan pemimpin yang lebih muda seperti Yosua.

Meskipun pada akhirnya kita memahami maksud Tuhan atas Musa dan Bangsa Israel, namun tetap saja kita tidak boleh memandang enteng keseriusan dosa, demikian juga jangan menganggap enteng kasih karunia Allah.

Di bagian akhir bab, Wong menulis, dalam hidup ini, tidak semua keinginan dipenuhi. Kita dapat berakhir dengan baik bahkan ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Allah mungkin mengejutkan kita dengan ukuran kasih karuniaNya, pengertian waktuNya, bahkan segores sentuhan humorNya. Kita tidak pernah tahu kejutan apa yang disiapkan Allah bagi kita. Kisah kita belum berakhir sebelum Dia mengakhirinya – dan akhir kisahNya selalu sempurna.

Teringat syair sebuah lagu:

Dalam s’gala perkara Tuhan punya rencana
Yang lebih besar dari semua yang terpikirkan
Apapun yang Kau perbuat tidak ada maksud jahat
S’bab itu kulakukan denganMu Tuhan...

CATATAN: Tulisan ini dibuat pada 30 November 2011 pukul 11:25 PM.

Woman’s Pray

Lord, I pray for a man that will be a part of my life. 
A man really loves You more than everything. 
A man that lives not for himself but for You. 
He must know for whom and what he lives, so his life isn’t useless. 
Someone that has a wise heart not only a smart brain. 
A man that not only adores me, but can warn me when I’m wrong. 
A man that can be my best friend. 
A man that makes me feel like a woman when I’m beside him. 
I don’t ask for a perfect man but I ask for imperfect man. 
A man that needs my support, my love, my prayer for his life. 
Give me Your hands so I always be able to pray for him. 
Give me Your eyes, so I can see good things in him and not bad one. 
Give me Your mouth that is filled with Your words of wisdom so I can support him. 
And I want that finally both of us can say “How great Thou Art”. 
Amen.