Minggu, 09 Juni 2013

I'm proud of you, mom...

Menjadi seorang ibu (maksudnya punya anak kandung), ada yang mengatakan di situlah letak 'kesempurnaan' seorang perempuan. Jadi pantaslah kalau sudah menikah bertahun-tahun, tapi belum punya anak juga, seorang wanita bisa menjadi cemas. Mungkin karena merasa tidak sempurna, atau punya alasan eksternal lain, misalnya takut sang suami berpindah ke lain wanita (mungkin...), atau dari pihak keluarga selalu mendesak-desak dan curiga kalau dirinya tidak mampu memiliki anak.

Beberapa waktu ini, secara tak sengaja aku mengamati dengan lebih empati bagaimana kehidupan seorang ibu yang memiliki anak.

Status FB atau BB seorang mommy:
Yang baru melahirkan menulis: "bosen di rumah melulu...", "kurang tidur nih, si baby tadi malam ngajakin ronda...".
Yang punya anak balita: "si dede panas...malam ini bunda akan begadang jagain dede...".
Yang suaminya kerja di luar kota: "semoga Tuhan selalu melindungi suamiku..."
Yang anaknya mau ujian: "Semoga anakku lulus..."
Dst...dst...dst.. ungkapan hati seorang ibu tentang anak-anaknya dan rumah tangganya...

Dari status-status para mommy itu, aku terpikir bahwa menjadi seorang ibu ternyata sangat tidak mudah ya... Itu tadi baru status para mommy yang punya anak-anak secara fisik dan mentalnya normal. Bagaimana dengan para mommy lain yang memiliki anak dengan kondisi kekurangan tertentu baik secara fisik atau mental? Tentu akan semakin berat lagi.

Aku teringat seorang ibu yang rela bercerai dengan suaminya hanya karena sang suami tidak mau menerima kondisi anaknya yang memiliki kekurangan secara mental. Betul lah kata pepatah: "kasih ibu sepanjang hayat, kasih anak sepanjang badan." Banyak ibu yang mengorbankan banyak hal dalam dirinya demi anak dan keluarga. Seperti tadi, sang mommy merelakan jam tidurnya hilang demi menjaga anaknya yang sakit; merelakan dirinya mengalami kebosanan demi selalu berada di samping buah hatinya. Ada banyak lagi yang mengorbankan cita-cita, karir, kesenangan-kesenangannya demi anak dan keluarganya.

Really proud to women that give many things in her life for her family.

Tidak semua wanita mengalami dan merasakan pengalaman demikian. Jadi Tuhan sebenarnya memberikan kemampuan khusus untuk itu. Anak adalah "hadiah" dari Tuhan; karena Ia memberikannya kepada siapapun perempuan yang ingin diberiNya.